Senin, 23 April 2012

Mengenang Sang Kyai Cuwati (Mungkin) Pertama

MENGENANG SANG KYAI MUHAMMAD HUSAIN
(Penulis adalah cucu beliu)
Muntholib Ibnu Muhammad Husain
Kyai, khususnya di pulau Jawa mempunyai makna yang luas, tidak sekedar guru Agama, kyai juga terkadang menjadi sosok yang diminta bantuannnya untuk mengobati, pemimpin ritual serta ceremonial budaya, serta tempat curahan hati setiap permasalahan kaumnya dan sebagainya dan sebagainya.
Di Desa Poncoharjo Sendiri kyai mempunyai  makna yang luas karena disini terdapat sebuah penghormatan sekaligus materi (mesiki tidak semuanya) karena mendapat bagian sawah garapan.
Salah satu Kyai yang merupakan Kyai pertama yang datang (boleh dikatan demikian) di Desa Poncoharjo adalah Kyai Muhammad Husain yang tidak lain adalah ayah dari Kyai Raehan. Berikut kami akan paparkan beberapa kisah dari sang Kyai Muhammad Husain yang diambil dari kisah para penduduk (Namun ini hanyalah sebuah kisah yang secara telaah keilmuan belum bisa dijadikan landasan ilmiah)
  • Latar Belakang
Kyai Muhammad Husain tidak (tepatnya belum) diketahui secara pasti kapan dan dari mana Kyai ini datang, namun demikian ada yang mengatakan Kyai Muhammad Husain datang dari selatan Kecamatan Wedung Demak (sekali lagi ini perlu pembuktian)
  • Perawakan
Menurut beberapa orang, Kyai Muhammad Husain berkulit putih bertubuh besar dan berkumis serta berjenggot, badannya tegap gagah dan berwibawa, serta rambutnya panjang terburai ke bawah.
  • Perjuangan dan Peninggalan
Kyai Muhammad Husain tidak hanya sekedar Kyai namun juga pejuang, konon Kyai Muhammad Husain pernah membantu Tentara Nasional Indonesia untuk bersembunyi di tempat yang aman. Karena tahu bahwa yang meyembunyikan pejuang adalah sang Kyai, maka Kyai Muhammad Husain ditarik dengan mobil tank dengan diikat rambutnya yang panjang itu ke mobil tank tersebut.
Adapun peninggalan beliu saat ini adalah sebuah musholla yang masih berdiri tegak tepatnya di depan rumah K. Raehan yang saat ini sedang dipugar.
  • Jabatan Pemerintahan
Disamping menjadi seorang Kyai, K. Muhammad Husain juga menjabat sebagai Modin, yakni petugas pemerintah yang bertugas di desa dengan tugas pokonya adalah bidang keagamaan khususnya perihal kematian dan pernikahan. Untuk tujuan inilah menurut hemat penulis Kyai ini datang sebagai pelaksanaan tugas yang diberikan oleh pemerintah kecamatan saat itu.
  • Makam Sang Kyai
Kyai Muhammad Husain dimakamkan di makam yang berada di kampung K. Raehan.
Demikianlah kisah singkat Kyai Muahmmad Husain, semoga kita dapat mengambil hikmah teladan dari beliu sekaligus menghidupkan kembali ajaran dan perjuangannya.
Untuk mengenang jasa-jasa beliu salah satu caranya adalah menjaga peninggalannya agar  tetap berdiri tegak yakni Musholla dan kebetulan Musholla ini sekarang sedang dipugar.
Kami mengetuk para dermawan untuk turut serta membantu, baik moral maupun spiritual. Dan bantuan langsung dapat diserahkan kepada panitia pembangunan Musholla yang berada di Kampung Kyai Raehan.
Sedikit mengingatkan, AL Qur’an Surah Al Baqarah ayat: 261, sudah Menjelaskan.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah itu laksana biji yang tumbuh bercabang tujuh,  di setiap cabangnya seratus biji.Allah melipatgandakan kepada orang yang Dia kehendakai dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”

Wallahu 'alam bissawab...

0 comments:

Posting Komentar

tinggalkan komentar anda disini