Jumat, 18 Mei 2012
Jumat, 04 Mei 2012
BOS......
01.02
No comments
Bantuan Operasional Sekolah
Cerpen
oleh :Zaini Addimawy
Pagi itu suasana gaduh mewarnai kediaman Bu Tuti, seorang
janda yang ditinggal mati suaminya saat bekerja di penggalian pasir dua tahun
lalu “Ayo Sekolah!!” bentak Bu Astuti pada anaknya yang kelas VI di SDN Mekar
Rahayu itu, tampak anaknya diam seakan ada yang tersimpan di dadanya, yang
sejak tadi mau dikeluhkan kepada ibunya. “Aku tidak mau Sekolah!! Sebelum
dibelikan LKS” Kata Dadi Anaknya itu. ”Ibu tidak punya uang” ibunya menjawab.”Kalau
tidak mau sekolah lebih baik kerja gali pasir aja di sana” sambil mengacungkan
jari telunjuknya Bu Tuti menunjukkan lokasi penggalian pasir, yang memang warga
kampung itu yang kebanyakan tidak lulus Sekolah Dasar bekerja sebagai penambang
pasir. Pagi itu akhirnya Dadi tidak Sekolah sebagaimana sejak seminggu terakhir
ini.
Hari
berikutnya tampak Dadi pagi-pagi sudah berada di persimpangan jalan untuk
mengatur jalan menjadi Pa Ogah yang mengatur mobil yang keluar masuk dari dan
menuju lokasi penggalian pasir. Tampak tangan kirinya memberi isyarat mobil
untuk berhenti sedang tangan kanannya berisyarat sebaliknya. Pa Sopir yang
diberi isyarat mengerti yang dimaksudkan Dodi, pa Sopir pun lewat dengan
meberikan uang recehan kepada Dodi.
Tet..tet…Bunyi
bel motor Pa Udin Kepala Sekolah yang lewat di persimpangan arah penggalian
pasir dan jalan kearah Sekolah menyapa Dedi anak pengatur jalan yang dia kenal
sebagai salah satu murid di sekolahnya.Setelah sampai di Sekolah Pa Udin yang
bertubuh besar penuh lemak itu memarkir motornya di depan sekolah berjalan
tegap dengan percaya diri masuk ke kantor sekolah.
Jam di dinding kantor menunjukkan
pukul 10.10 saat kepala Sekolah masuk kedalam ruangan kantor, saat itu
guru-guru yang kebetulan berkumpul di kantor yang sedang mengisi jam Istirahat
itu akhirnya membubarkan diri saat kepala sekolah masuk ke kantor tampak
ketidaksenangan guru-guru kepada kepala sekolahnya. “Silahkan makan semua uang
Bos!!” gerutu Pa Zen sambil keluar ruangan, yang sejak tadi bersama guru yang
lain membicarakan watak kepala Sekolah yang suka berfoya-foya dengan
selingkuhannya sesama guru di sekolah yang lain menggunakan uang BOS, bahkan
tidak hanya uang BOS dari pusat saja melainkan uang BOS dari Propinsi serta BSM
(Bantuan Siswa Miskin) memang terlalu Kepala Sekolah kita ini” Sahut guru yang
lain.
Esok harinya tidak seperti biasamya
langit tertutup mendung tebal yang menandakan hujan lebat akan segera datang,Pa
Udin dengan hati gundah setelah bertengkar dengan istrinya pergi ke sekolah
yang jarang dilakukannya meski jabatannya sebagai Kepala Sekolah.
Gerimis sudah mulai turun, Pa Udin
dengan jas hujannya berangkat menuju ke sekolah. Hujan semakin lebat saat Pa
Udin melewati persimpangan jalan ke arah sekolah dan arah ke penggalian pasir. tampak
pada hari itu para penggali pasir tidak sedang bekerja karena cuaca yang begitu
gelap serta hujan lebat.Dari kejauhan terlihat air menggerus permukaan bukit
yang digali oleh penambang, sedikit demi sedikit bukit yang sudah gundul itu
pun mulai tergerus, tampak air begitu perkasa sehingga pepohonan mulai tumbang
dan terbawa arus bercampur lumpur, Pak Udin akhirnya terjebak diantara derasnya
air yang mengalir dari bukit penambang pasir yang longsor. “Tolong…tolong….”
Teriak Pa Udin meminta tolong, namun gelapnya suasana serta hujan lebat pada
saat itu sehingga tidak ada seorang pun
yang mendengar, akhirnya teriakan Pa Udin berakhir saat batang pohon
besar yang tumbang terbawa arus air yang deras itu menghantam tubuhnya dan saat
itu dunia menjadi gelap bahkan semakin gelap untuk selama-lamanya,Pa udin
meninggal akibat longsornya bukit galian para penambang.





