Manajemen Kelamin
Manusia adalah hewan yang berakal
begitu bunyi sebuah peribahasa “Al Insanu
Hayawanun Naatik” dengan akal manusia dijadikan pemimpin di muka bumi ini,
sebagai seorang yang disebut dengan halifah
(wakil) di bumi ini, meski pemilihan manusia oleh Tuhan ‘diprotes’ oleh
kelompok malaikat karena sifat manusia yang serakah serta menimbulkan kerusakan
namun Allah adalah Tuhan yang menjadikan makhluk tentunya lebih tahu dari
makhluk ciptaanNya.
Jika Makhluk hidup lain diberikan nafsu saja, manusia dioberiknoleh Allah akal dan nafsu dan diantara nafsu itu adalah
nafsu untuk mendapatkan kepuasan bathin (libido) namun penyalurannya dengan
menggunakan tatacara serta syarat yang ketat yakni adanya pernikahan.
Bersyukurlah bagi insan yang sudah berumah tangga semoga selalu dalam
ketenagan. Bagi seorang bujang tentu banyak sekali permasalahan atas keputusannya
yang masih menyendiri antara lain permasalahan seorang bujang adalah penyaluran
nafsu sexnya itu. Berikut saya akan mencoba menulis bagaimana manajemen kelamin
itu, tentunya ini hanya sebuah tulisan hasil akhirnya dikembalikan kepada
pembaca yang budiman.
Kelamin sama halnya dengan kualitas
akan keimanan seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa, seseorang yang dapat memelihara
kelaminnya tentu perilaku baiknya itu kebaikannya akan dijamin oleh Tuhan Allah
Subhanahu Wa Taala.
Allah memberikan semua makhluk
hidup tak terkecuali manusia berupa kelamin yang merupakan alat reproduksi
untuk menjamin keberlangsungan makhluk hidup itu, namun apa jadinya jika alat
kelamin yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan tidak dipergunkan dengan jalan
yang baik lagi halal.
Pergaulan antar laki –laki dan
perempuan kadang susah untuk dielakkan telebih jaman sekarang ini namun langkah
yang tepat perlu dilakukan agar kita terbebas dari kejahatan kelamin. berikuat
adalah bebrapa langkah bagi laki-laki untuk bisa terbebas dari perzinahan:
1.
Puasa
Sebagaimana yang
Nabi terangkan dalam haditsnya bahwa dengan berpuasa kita akan dapat mengatur
nafsu libido yang kadang telah begitu kuat.
2.
Jika seorang laki-laki hasratnya naik sedangkan
di sampingnya ada kekasihnya yang secara memungkinkan bisa terjadi perzinahan
maka, bisa dimungkinkan melakukan onani
saja, meski hukum dasarnya adalah haram namun jika sudah tidak kuat dari pada
terjadi perzinahan maka lebih baik onani, karena onani jauh lebih terhormat
dari perzinahan yang berdosa besar itu…Naudzu
Billah Min Dzalik
3.
Jika semakin dekat lagi karena nafsu syetan
sudah menyerang otak (awas jangan diikuti) maka lebih baik ditempel saja di
bibir vagina perempuan itu jangan sampai terjadi perzinahan dengan memasukkan
ke dalam liangnya…..tentunya perilaku ini merupakan dosa namun tidak bisa
dikatakan berzina jika tidak dimasukkan sebatas minimal kepala penis, namun
demikian perilaku ini merupakan pendekatan terhadap zina serta pelakunya bisa ditakzir (dihukum) .
4.
Jika-sekali lagi jika- nafsu sudah mulai
memuncak bahkan ingin melakukan penetrasi maka jangan dimasukkan ke dalam
vagina lebih baik lewat belakang (dubur)
saja meski jelas perbuatan ini termasuk perbuatan yang dibenci dan sangat
dilarang oleh Allah bukan saja karena berhubungan dengan lawan jenis yang belum
halal tetapi juga karena melakukan lewat jalur belakang, namun memang melakukan
lewat jalur belakang bukan termasuk perbuatan zina dalam arti yang
sesungguhnya karena tidak dimasukkan ke dalam jalur sebenarnya yaitu qubul
(vagina). Namun demiklian ingatlah wahai saudaraku perilaku ini sangat dilarang
oleh Allah SWT waspadalah..
5.
Jika terjadi perzinahan (Naudzubillah Min Dzalik) segeralah bertaubat karena demi Allah
wahai saudaraku dosanya sangat mengerikan.
Tapi ingat wahai saudaraku
sebelum berpikir untuk melakukan perzinahan sebaiknya buang jauh-jauh pikiran
tersebut karena berzina merupakan candu. Seseorang yang sudah sering berzina
akan susah untuk terbebas dari pikiran untuk berzina.
Akhirnya tulisan ini hanya
sebagai pengingat bagi kita semua, mari kita lakukan gerakan anti perzinahan.
Semoga Allah selalu menjaga diri dan keluarga kita dari perbutan terkutuk berupa
zina Amin Ya Rabbalalamin.





