BAU BUSUK PEMILIHAN KPPS
Suatu hari seorang pemuda dengan
penuh semangat mengumpulkan berkas -berkas untuk pemilihan KPPS di suatu desa
berharap bisa bergabung untuk sekedar
meramaikan kontestasi politik yang penuh gembira namun ternyata niat baik itu mentok
di tengah jalan bukan karena persyaratan tidak mencukupi namun karena proses
pemilihannya yang tidak akuntabel, berikut ceritanya;
Semburat cahaya
kuning muncul di ufuk timur, surya pagi menyapa warga desa Pancajaya dengan
cerah ceria. Seorang pemuda dengan percaya diri mengumpulkan berkas yang
terdiri dari ijasah sarjana, pas foto, Kopi identitas serta berkas kelengkapan
lainnya, menyusul info di papan pengumuman tentang pemilihan KPPS (Kami Para Pecinta Sejati) (jangan protes ini kepanjangan gue aja ga usah dikait2in)
Hari itu surat
undangan sampai di tangan sang pemuda yang isinya tentu seleksi wawancara
pemilihan KPPS oleh PPS (Para Pecinta Sejati) (jangan protes terserah gue,
jangan dikaitkan), setelah dibaca mengertilah sang pemuda untuk hadir pada hari
yang tertera di surat undangan tersebut.
Hari itu
setelah mandi dan berpakaian rapi sang pemuda datang ke lokasi wawancara di AULA desa Pancajaya tersebut. Setelah mengisi absensi serta mengantri cukup lama
tibalah sang pemuda mendapat giliran wawancara dan tepat saat itu pemuda itu diwawancara oleh Sugus yang sebenarnya teman waktu SMA sang pemuda tersebut,
setelah ngobrol beberapa saat Sugus akhirnya meminta sang pemuda untuk menulis
nama serta tandatangan, setelah itu Sugus hanya ngobrol tanpa menanyakan sama
sekali subtansi dari pemilihan bahkan bertanya tentang kondisi kantor sang
pemuda, selesai wawancara sang pemudapun pulang ke rumah namun sebelum pulang berpapasan
dengan calon yang lain yang datang belakangan. Belakangn orang-orang yang datang terlamabat tadi yang diyakini tidak ikut tes wawancara lolos seleksi.
Sampai hari
pengumuman tiba, ternyata nama sang pemuda tidak tercantum di papan pengumuman
artinya sang pemuda gagal dalam seleksi, sang pemuda berpikir entah apa yang
menyebabkan dia gagal, namun setelah bertanya sana sini akhirnya disimpulkan
bahwa nama-nama yang lolos seleksi adalah nama-nama yang merupakan pesanan
kepada panitia, memanglah demikian adanya karena berdasarkan apa yang didengar
langsung oleh sang pemuda sebelum hari seleksi bahwa nama-nama KPPS sudah ada,
sehingga pemanggilan seleksi hanya formalitas saja, itulah bau busuk seleksi
KPPS.
Setelah ditilk
lebih dalam bahwa yang lolos KPPS ternyata orang orang yang sudah dipilh, bahkan ada kabar bahwa salah satu calon tidak dapat menjawab pertanyaan
PPS pun lolos, ada juga yang satu keluarga semuanya lolos dan yang
lebih hebat juga teman ngajar PPS Sugus lolos semua sedangkan pemuda dan satu
temannya yang guru MI ga diloloskan, dari itu, sang pemuda berniat
memberitahukan kepada sang ‘Jendral’ yang merupakan teman PPS Sugus itu agar
diberi nasehat, memang ‘Jendral’ itu merupakan jenderalnya sang pemuda, yang
lebih mengherankan lagi ada seorang calon yang pendidikan formalnya hanya kejar
paket yang hanya datang ketika ujian saja (ini diketahui setelah sang pemuda
ngobrol langsung dengan slah satu calon) pun lolos seleksi RUAAARRR BINASA.
Demikian kisah
sang pemuda, semoga sang pemuda mengurungkan niatnya untuk GOLPUT PILKADA
karena kecewa dengan proses seleksi yang berbau busuk.
Sebagai tambahan, ternyata penyeleksinya adalah penerus gen dari pemimpin desa zaman orde baru yang penulis ingat sangat tidak demokratis, sebagai contoh orangtu penulis dipersulit dalam administrasi, misalnya pernikahan atau jika ada sumbangan selalu tidak dapat, itu dilakukan perangkat desa saat itu karena kakek penulis atau orang tua dari ayah penulis adalah Ansor dan juga Kiai desa yang dulu berafiliasi pada PPP samapai menyatakan khittah, namun masih dikaitkan dengan partai tertentu utamanya PPP, sebagaimana diketahui partai saat itu cuma ada tiga selain Golkar dan PDI (tanpa Perjuangan).
Terimakasih....
Terimakasih....






