Senin, 12 September 2016

Akhir sang preman kampung

Skenario Membunuh Warsito
(cerpen)
Sinar matahari menampakkan keangkuhannnya menyinari dunia penuh keceriahan, suara monoton terdengar terus menerus bersamaan cangkul menyentuh tanah gembur, Surawan pria paruh baya ini dengan tekun bergelut dengan sawah garapan hasil pembelian dari saudagar kaya pemenang tender lelang sawah BKM istilah untuk sawah milik masjid kabupaten itu. Ketekunannnya dalam belajar mencari karunia sudah kawentar di kalangan masyarakat Desa Pancajaya itu.
Setiap pagi buta Surawan pergi kesawah dengan tekunnya mulai dari tanam bahkan sampai pemanenan dijalani Surawan dengan penuh semangat agar kehidupan ekonominya berjalan dengan baik dan bertambah kemapanan ekonominya.
Seperti biasa pagi itu ia pergi kesawah namun kali ini dengan perasaaan yang penuh gembira karena melihat sawahnya yang sudah menguning dengan baik itu pertanda masa panen akan segera tiba dan bisa dijual
Untuk keperluan membangun rumahnya yang sudah mulai reot dimakan usia, terlebih rumah kayu ini sudah tidak layak huni, besar hatinya agar panen nanti melimpah dengan harga tinggiagar hasil panennya bisa digunakan untuk bangun rumahnya.
Alangkah bahagia hatinya melihat sawahnya yang terlihat bagus, lama ia memperhatikan sawah yang siap penen itu, tiba- tiba seorang yang memakai topi koboi itu menyapanya, "Sur"...sapaan akrap mampir di telinganya suara yang sudah ia kenal, ya Warsito si tengkulak gabah itu memanggilnya, begitu kenalnya ia karena sering bertemu di sawah yang memang mempunyai sawah yang bersebelahan dengannya,"Ya..."Sahutnya dengan masih menatap sawahnya tanpa menoleh panggilan temennya itu.
“Dijual berapa...?” tanya Warsito sambil duduk disebelah Surawan..."Uuw Ahhh..."asap tebal keluar dari mulut Warsito dengan sigaretnya yang tampak basah karena hisapan mulutnya...”Berani berapa...?” Surawan menjawab tawaran Warsito..”Lima belas juta ya?” “Tambah lima ratus” balas Surawan minta tambahan harga “OK Deal limabelas Juta lima ratus, ini DP nya satu juta dulu ya...” ,”OK” balas Surawan yang kini sudah benar benar bicara serius dengan berhadap hadapan dengan Warsito itu,
Transaksi sederhana yang oleh masyarakat sekitar di sebut 'Nebas Pari' ini berjalan meski tanpa saksi serta surat bukti transaksi, transaksi jual beli utang piutang ini berjalan dan sudah biasa dilakukan di Desa Pancajaya itu. “Kapan Dipanennya?” tanya Surawan dengan maksud jika sudah dipotong(dipanen) berarti kekurangan dari jual sawah akan segera dibayarkan oleh warsito, "Ya paling seminggu lagi nanti kalau udah terjual kekurangnnya akan aku kasihkan aku antar ke rumah kamu, kamu jangan kuatir” pinta Warsito meyakinkan, “Baik, bener ya jangan lama-lama motongnya awas musim hujan nanti ambruk saya yang rugi” balas Surawan mengharap warsito segera memanen sawahnya agar secepatnya dapat kekurangan uangnya yang dari warsito itu.
***
Sore itu menjelang magrib tiba,tampak langit mulai gelap gulita karena mendung awan pekat kumulus menutup langit Desa Pancajaya itu, suara angin terdengar huss... menerpa pepohonan semakin lama semakin kencang pertanda akan segera hujan, gerimis mulai datang membasahi seluruh desa yang diikuti suara petir bersahutan dan hujan deraspun mulai membasahi desa, suara speker adzan magribpun tidak mampu mengalahkan suara hujan yang teramat deras itu, pohon-pohon seperti hampir ambruk terkena angin disertai hujan lebat, penduduk desa seperti ogah keluar rumah,sebentar kemudian lampu PLN-pun ikut padam praktis suara hujan dan petir memenuhi ruang dan waktu di desa PancaJaya itu. Dan sebentar kemudian genangan air memenuhi halamansetiap rumah dan jalan jalan desa bahkan sawah sawah.
***
Kegelisahan mulai muncul di benak surawan memikirkan panen sawah yang sudah dijualnya kepada Warsito tadi, “Bagaimana keadaan sawahku jika hujan seperti ini” pikirnya ketika lamunanya semakin mendalam tiba-tiba gelegaar...suara gemuruh itu seperti memecahkan genderang telinganya...sekaligus menyadarkan ia bhwa waktu sholat telah tiba. Menjelang malam kantuk belum bisa menguasainya lantaran masih memikirkan sawahnya yang terkena hujan lebat itu. Namun kemudian matanya sudah mulai gelap setelah kantuk benar-benar menguasai dirinya.
***
Pagi masih tampak samar –samar mataharipun masih enggan menampakkna wajahnya, namun masyarakat desa sudah begitu ramai, ya tentu mereka masing-masing khawatir dengan padi mereka yang masih disawah itu, pagi buta itu mereka penduduk desa tidak ketinggalan Surawan juga pergi kesawah masing-masing untuk melihat hasil panenya yang terkena hujan lebat semalam.

Perjalanan tergesa-gesa ia lalui melewati pematang sawah sambil memperhatikan kiri kanan tarikan nafas panjang menyertai perjalanannya, ya,sepanjang jalan pematang sawah yang ia lalui,tampak batang-batang padi sudah tidak berdiri lagi, banyak diantara padi-padi itu tidak beraturan ada yang ambruk kira kanan bahkan ambruk semua, semakin gelisah ia semakin khawatir muncul dalam dirinya, “Bagaimana nasib sawahku” pikirnya.
Dari kejauhan tampak dia memperhatikan sawahnya badannya gemetaran melihat dari kejauhan hasil sawahnya,, air tampak memenuhi petak sawah miliknya, "Aduh"...keluhnya...ya..sawahnya ambruk semua tidak beraturan, hatinya menjadi kecut.dengan hati yang berat ia kembali pulang kerumahnya.
***
Hari berganti hari Surawan semakin gelisah karena padinya belum dipanen oleh Warsito, “Bagaimana nanti jika digagalkan transaksinya secara sepihak oleh warsito?” pikirnya.
Hari berganti hari, kegelisahan surawan semakin menjadi tatkala hari pemotongan padi lewat begitu saji namun padi surawan masih belum di panen sedang keadaan padi semakin rusak karena ambruk serta hujan sehingga pohon padinya rusak membusuk bahkan sampai tumbuh benih hal yang sangat memilukan
Hari itu bagai petir menyambar,Warsito secara sepihak membatalkan transaksi nebas sawah yang sudah mereka sepakati, Hancur luluh hati surawan angan angannya untuk bisa mempergunakan hasil panennya untuk membangaun rumah sirna sudah, “Ini gara-gara Warsito, Kurang ajar dia” Pikirnya.
Kebencian Surawan semakin mendalam tatkala Kamuri preman kampung tangan kanan Warsito meminta uang DP transaksi awal nebas sawah yang sudah dibayarkan warsito, dengan berat hati Surawan memberikan uang Dp satu juta sebelumnya, meski dengan semakin bertambah kebencian pada Warsito.
Hari-hari kiniSurawan tidak bisa tidur pikirannya melayang menandakan kebencian pada Warsito, sesaat kemudian Hp jadulnya berdering..”Kring..”“Ah Si Asep” Nampak nama Asep timbul di HP-nya tanda memanggil..”Ada apa tiba-tiba temen lama waktu di bandung menelpon” pikirnya..”Perbincangan panjang lebar terjadi setelah menyapa dan saling menanya kabar masing-masing, akhirnya Surawan curhat atas apa yang sedang menimpanya, dengan tanggap asep yang asli Cipading dengan tanggap siap membantu, ya bukan main-main bantuannya, dia siap menyiapkan preman serta senjata api rakitannya untuk menghabisi Warsito, Surawan yang memendam kebencian pada Warsito awalnya menolak namun ketika Asep mencoba meyakinkannya dengan sekenario yang rapi pembunuhan terhadap Warsito akan berjalan lancar.
Benar saja, kesepakatan terjadi Asep siap membantu Surawan menghabisi Warsito dengan skenario yang rapi.
Sore itu menjadi waktu naas bagi preman kampung Warsito, pria bertopi koboi itu sedang melihat peternakan burung di luar kampung, tiba tiba “Dor.. suara letusan senjata api dan sesaat kemudian pipi kanan warsito penuh dengan darah, ya tepat di kepala kanan warsito, seketika itu pula preman kampung yang sok jagoan itupun tumbang oleh preman sewaan Asep dengan senjata api rakitannya. Suasana yang sepi kala itu menjadi semakin mudah bagi si Gemblung preman kelas kakap yang menghabisi Warsito dengan mudah menyeret jasad tak bernyawa itu untuk dibuang ke Kalijajar sekitar kejadian, dan dengan memberikan bandul batu besar jasad naas itu akhirnya tenggelam di dasar sungai, bahkan jasadnya sampai tidak ditemukan barangkali sudah habis dimakan hewan sungai itu.
***
Sementara itu sejak kematian orang tuanya keluarga Warsito menjadi hancur lebur diberitakan anak laki-lakinya Buwas menjadi pengemis di pasar dan terminal, serta ibunya menjadi gembong germo di kota samara.
selesai
***