Sabtu, 07 September 2024
Minggu, 19 Agustus 2018
LOVE STORY
07.11
No comments
TULISAN ISENG SAJA
(Bandung Love Story)
Malam baru saja mulai dan selimut
malam mulai menyisir setiap sudut alam fana ini, bersamaan dengan saat hati penulis
ingin menulis, namun entah apa yang ingin penulis tulis. Betapa tidak, tulisan kadang hanya
bersarang di folder komputer tanpa ada keinginan lagi untuk menyelesaikannya,
memang menulis adalah mudah, mudah karena hanya ambil pulpen dan tulis apa saja
yang akan anda tulis. Hal ini tentu
berlalu juga bagi penulis yang kadang di sela-sela jualan, penulis membuka
kumputer jinjing untuk sekedar mengisi waktu sambil menunggu pembeli mampir penulis
menulis namun kadang belum mempunyai bahan yang akan dibahas dan ditulis nanti.
Sambil menundukkan mata ke pandangan
layar komputer sesekali penulis mendongak, berharap ada dan menyapa ramahcalon
pembeli yang akan membeli dagangannya. Serta kadang penulis melihat lepas ke
luar jalan melihat hilir mudik mobil-mobil skala besar yang lalu-lalang melintasi
jalan pantura yang super sibuk ini. Sesekali matanya bersamaan dengan hati mengucap
Masyaallah melihat makhluk berparas elok melintas dari pandangan mata.
Bersamaan pandangan mata yang mensiratkan
kekaguman, hati mulai mengingat perjalanan masa muda yang tentu penuh dengan masa
indah bersama pasangan, berkaitan dengan masa muda penulis hanya mengalaminya
dengan seorang wanita saja yang dijalaninya saaat masa perkuliahan dulu, karena
masa sebelumnya yakni MTS dan Aliyah berada di pesantren dan di masa yang indah
itu penulis bersama teman sekampusnya yang bersama –sama dalam suka maupun duka
dalam dunia pekuliahan, sehingga masa perkuliahan itu mempunyai memori
tersendiri bagi penulis yang tentu berkesan.
Kesan itu yakni, kemana-mana
selalu bersama menjelajah luasnya kota Bandung yang penuh dengan wisata
alamnya, dengan motor sederhana penulis menjelajahi semua sudut kota Bandung
sampai ke ujung kota dan pegunungannya, hampir semua sudut wisata alam yang ada
di kota itu dilewati penulis bersama sang kekasih hati.
Bukan hanya berwisata ria saja
namun penulis banyak turut andil dalam penyelesaian tugas –tugas pasangannya, mulai
tugas kuliah yang bersifat tugas harian sampai pembuatan skripsi yang
perjuangannya sungguh lumayan berkesan karena sulitnya bahan saat itu. Namun dengan
kesungguhan bekerja menyelesaikan tugas akhir, akhirnya penulis mampu menyelesaikan
dua skripsi sekaligus, miliknya dan skripsi pasangannya yang lumayan sulit itu.
ah jadi lebay… ah sudahlah itu masa lalu, namun penulis bersyukur diberi kesempatan melewati masa muda itu, karena menurut penulis cinta dan kasih sayang adalah anugrah.
ah jadi lebay… ah sudahlah itu masa lalu, namun penulis bersyukur diberi kesempatan melewati masa muda itu, karena menurut penulis cinta dan kasih sayang adalah anugrah.
Kini penulis menikmati masa-masa indah
menjadi kepala keluarga, berkumpul bersama, pagi berangkat mengajar kemudian
sorenya istrinya yang mengajar di rumah bersama beberapa santri, sedang penulis bertugas di kois, begitu terus
aktivitas setiap hari yang berlaku rutin bagi penulis, selain itu kini penulis
sangat berbahagia karena diberi amanat lagi oleh Allah Subhanahu Wataala berupa
janin yang dikandung sang istri semoga kelak menjadi anak yang soleh atau
sholihah amin ya rabb…mohon doanya ya pembaca yang budiman.. hehe. Salam…
Rabu, 11 Juli 2018
KULIAH YES RADIKAL NO
SELAMAT KULIAH TAPI
JANGAN RADIKAL YA!
Hampir sebagian besar orang yang
pernah belajar di bangku sekolah SMA mengatakan bahwa masa indah dalam
pendidikan adalah masa SMA, namun tidak bagi penulis, masa terindah adalah masa
studi di bangku kuliah, penulis bisa mengatakan itu barangkali masa pendidikan
penulis sejak di bangku Madrasah Tsanawiyah (Setingkat SMP) sampai dengan Madrasah
Aliyah (setingkat SMA) dihabiskan di lingkungan pesantren yang jika ditilik
dari kehidupannya hanya sekolah ke pesantren dan sebaliknya, demikian terus setiap
hari sampai lulus Aliyah.
Suasana berbeda saat memasuki jenjang
perkuliahan, masa-masa SMA seperti berubah seratus delapanpuluh drajat, saat
SMA mungkin masih jaim (itu jaman gue) ga tahu kalau anak jaman sekarang.
Pada saat masuk ke jenjang
perkuliahan pertama tentu banyak yang membuka stand-stand, stand di sini
bukanlah stand berjualan ala kaki lima, tetapi banyak yang membuka pendaftaran
organisasi-organisasi ke mahasiswaan yang dilakukan oleh kader organisasi
kemahasiswaan, antara lain HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia), KAMMI, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), dan masih
banyak lagi yang lainnya,
Dimasa kuliah inilah sebaiknya
kita tidak sekedar barangkat pulang kuliah saja, tetapi sebaiknya kita juga
aktif dalam kegiatan dalam organisasi kemahasiswaan, tetapi ingat sebaiknya
kita selektif dalam memilih organisasi yang sesuai dengan latar belakang kita,
betapa tidak, ada organisasi yang bersifat tertutup atau underground yang
dalam pergerakannya lebih bersifat sembunyi-sembunyi, yang seperti inilah yang
perlu diwaspadai karena sudah pasti cenderung pada organisasi radikal
CIRI-CIRI GERAKAN RADIKAL
Berikut akan penulis uraikan
ciri-ciri gerakan radikal dari pengalaman pribadi penulis yang pernah masuk
dalam gerakan radikal sebelum tahu dan akhirnya keluar.
·
POLA DAKWAH
Dalam gerakan
radikal biasanya dibalut dengan cara serta konsep dakwah, namun hal ini bagi
kita yang sudah pernah berpendidikan madrasah sedikit banyak mampu menghalau
dakwah radikal ini, karena tidak sesuai yang diajarkan guru-guru madrasah sejak
kecil dulu.
·
Materi Dakwah
Selain konsepnya
dakwah, dalam materi dakwahnya menggunakan konsep ‘Takfiri’,
yaitu mengutip ayat-ayat yang mengkafirkan orang lain,
·
Kutipan Ayat Al Qur’an
Dalam mengutip ayat
Al Qur’an diambil potongan-potongan ayat sebagai berikut:
ü
QS Al Maidah ayat 44, 45
dan 47 namun hanya diartikan secara terjemah saja tidak menggunakan tafsir ulama klasik yang biasa dilakukan
ulama atau guru-guru kita.
Berikut teks QS Al Maidah Tersebut:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (44)
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (44)
44. …Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (45)
45. …Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (47)
47….Barangsiapa tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah
orang-orang yang fasik.
Dalam
praktek pengajarannya sebagaimana yang penulis pernah alami adalah pembicara
panjang lebar ‘menghakimi’ hukum di Indonesia yang toghut lalu pendengar
disuruh membuka ayat diatas dan membaca terjemahannya, kemudian penceramah
membandingkan hukum di Indonesia lalu duaarr semua orang dihukumi kafir.
Namun
Alhamdulillah-nya, ketika penceramah menulis di papan tulis bahasa arab, eh
ternyata tidak menguasai tulisan arab, dari sini penulis menyimpulkan bahwa
penceramah tersebut tidak menguasi agama secara baik sehingga penulis merasa
tidak cocok dengan ceramah agamanya.
Selalu mengkafirkan orang lain
yang tidak sefaham dengan diri mereka, ini ciri yang sangat jelas terlihat,
jika dalam dakwah isinya hanya mengkafirkan setiap orang -sekali lagi setiap
orang- maka sudah pasti anda sudah masuk ke dalam ’LIQO’ atau pengajian
dakwah ala kaum radikal, sebagai catatan bahwa kata kafir pemahaman awam harus
dibunuh atau halal darahnya atau masuk neraka.
Jika anda mengikuti dakwah dengan
ciri di atas secepatnya anda harus walk out atau keluar dari pengajian
tersebut, dengan kata lain anda harus selektif masuk organisasi, pilihlah
organisasi yang sudah populer dekat dengan islam rahmatan lil ‘alamin
seperti HMI dan PMII.
Itulah sekedar pengetahuan
sebagai pembekalan pada pemuda-pemuda yang akan melanjutkan pendidikan ke
jenjang perkuliahan, namun harus tetap waspada menjaga aqidah dari ajakan untuk
menjadi radikal.
(mohon koreksi jika salah)
Wallahu A’lam
Wallahu A’lam
Rabu, 04 Juli 2018
ASAL MULA BARONGAN
ASAL USUL BARONGAN
BARONGAN VERSES REOG SERTA ASAL USULNYA
Pada dasarnya penulis bukan hendak menjelaskan sejarah atau
asal mula ‘Barongan’ karena penulis sendiri tidak tahu persis asal usulnya,
namun penulis hanya akan menuliskan asal mula Reog Ponorogo berdasar atas
sumber yang menjadi rujukan penulis.
Adapun rujukan asal mula Reog Ponorogo adalah buku “Sabda
Palon- Dhamar Shasongko” yang menjelaskan panjang lebar dan cukup menarik untuk
dibaca tentang sejarah masa lalu dikemas dalam bahasa novel.
Alkisah, pada zaman kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Brawijaya
V (±1500M) sang raja yang terkenal dengan pecinta sejati wanita wanita cantik,
yang kemudian mempersunting selir yang cantik jelita dari negeri Champa, yang
kemudian salah satu (Raja Brawijaya terkenal dengan banyak istri) permaisurinya
sendiri diserahkan kepada Adipati Pelembang yang pada saat itu sedang
mengandung Raden Patah (kelak menjadi raja Islam Jawa Demak), namun ternyata
setelah menikah dengan permaisuri barunya Kerajaan Majapahit di bawah kendali
sang permaisuri barunya tersebut, kebijakan yang berkaitan dengan pemerintahan
selalu di bawah kendali sang permaisuri barunya, setelah sekian lama di bawah
kendali sang permaisuri lambat laun marwah pemerintahan Majapahit yang
membentang luas sampai ke Philipina saat ini berkat jasa Mahapatih Gajah Mada akhirnya
semakin melemah, Negara-negara bawahan banyak yang melepaskan diri, melihat
perkembangan pemerintahan Majapahit yang semakin melemah menjadi perhatian
Adipati Ponorogo yang tiada lain masih berhubungan darah dengan raja Majapahit itu.
Di suatu kesempatan saat perayaan tahunan yang biasa diadakan
oeh pemerintahan kutaraja yaitu saat
perayaan tahunan dan semua negeri bawahan harus menghadap ke ibukota kerajaan
Majapahit sebagai bukti kesetiaan serta harus menampilkan kreasi seni dan
pertunjukan, maka saat itulah terbersit pada diri Adipati Ponorogo untuk
membuat kreasi seni yang sekarang ini kita sebut dengan tarian Reog Ponorogo.
Tarian ini menggunakan piranti tari bernama Dhadak Merak,
yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan
bulu-bulu burung merak di atasnya. Dhadak merak ini dimainkan oleh satu orang,
dengan diiringi oleh prajurid yang bertingkah seperti banci (sekarang
dimainkan oleh wanita tulen). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujanganom dan
satu orang Jathilan, melompat lompat seperti orang gila.
Dari model dan bentuk di atas sebenarnya adalah kreasi dari Adipati
Wengker Ponorogo sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah kerajaan Majapahit,
apa itu bentuk sindirannya.
Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya di bawah selangkangan sang burung merak. Para Prajurid Majapahid sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, para pejabat terasa acuh tak acuh.
Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya di bawah selangkangan sang burung merak. Para Prajurid Majapahid sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, para pejabat terasa acuh tak acuh.
Dikisahkan juga setelah raja tertarik dengan tarian dari
utusan Adipati Ponorogo, lalu raja meminta penjelasan tentang tariannya,
dijawab oleh Adipati seperti apa yang penulis jelaskan di atas, seketika
marahlah raja Brawijaya sehingga terjadilah perang saudara yang mengerikan itu, akhirnya Ponorogo
yang hanya kerajaan kecil harus menerima kekalahan, dan ratusan bahkan ribuan
nyawa harus tewas sia-sia karena perang Warog Ponorogo ini.
Demikian kisah Reog Ponorogo, adapun barongan menurut penulis
terilhami dari reog ini, sebagaimana diketahui bahwa barongan yang ada saat ini
seperti KUSUMOJOYO, KADEMANGAN dan yang lain merupakan barongan modern, karena
barongan dulu tidaklah sebagus sekarang, dulu barongan dibuat dengan sederhana,
seperti barongan dari Cuwati yang sekarang sedang mati suri ini.
Yang menarik adalah tarian 'Reog Ponorogo' ini adalah sindiran bagi para lelaki petualng cinta yang hanya memperturut nafsu semata lalu melupakan tugasnya sebagai pemimpim, apakah itu pemimpin kerajaan, sampai pemimpin desa sekalipun, lalu bagaimana dengan pemimpinmu apakah seperti itu, silahkan anda bertafakkur sendiri
Wallahu A'lam.
Selasa, 19 Juni 2018
Pemilihan KPPS 2018
BAU BUSUK PEMILIHAN KPPS
Suatu hari seorang pemuda dengan
penuh semangat mengumpulkan berkas -berkas untuk pemilihan KPPS di suatu desa
berharap bisa bergabung untuk sekedar
meramaikan kontestasi politik yang penuh gembira namun ternyata niat baik itu mentok
di tengah jalan bukan karena persyaratan tidak mencukupi namun karena proses
pemilihannya yang tidak akuntabel, berikut ceritanya;
Semburat cahaya
kuning muncul di ufuk timur, surya pagi menyapa warga desa Pancajaya dengan
cerah ceria. Seorang pemuda dengan percaya diri mengumpulkan berkas yang
terdiri dari ijasah sarjana, pas foto, Kopi identitas serta berkas kelengkapan
lainnya, menyusul info di papan pengumuman tentang pemilihan KPPS (Kami Para Pecinta Sejati) (jangan protes ini kepanjangan gue aja ga usah dikait2in)
Hari itu surat
undangan sampai di tangan sang pemuda yang isinya tentu seleksi wawancara
pemilihan KPPS oleh PPS (Para Pecinta Sejati) (jangan protes terserah gue,
jangan dikaitkan), setelah dibaca mengertilah sang pemuda untuk hadir pada hari
yang tertera di surat undangan tersebut.
Hari itu
setelah mandi dan berpakaian rapi sang pemuda datang ke lokasi wawancara di AULA desa Pancajaya tersebut. Setelah mengisi absensi serta mengantri cukup lama
tibalah sang pemuda mendapat giliran wawancara dan tepat saat itu pemuda itu diwawancara oleh Sugus yang sebenarnya teman waktu SMA sang pemuda tersebut,
setelah ngobrol beberapa saat Sugus akhirnya meminta sang pemuda untuk menulis
nama serta tandatangan, setelah itu Sugus hanya ngobrol tanpa menanyakan sama
sekali subtansi dari pemilihan bahkan bertanya tentang kondisi kantor sang
pemuda, selesai wawancara sang pemudapun pulang ke rumah namun sebelum pulang berpapasan
dengan calon yang lain yang datang belakangan. Belakangn orang-orang yang datang terlamabat tadi yang diyakini tidak ikut tes wawancara lolos seleksi.
Sampai hari
pengumuman tiba, ternyata nama sang pemuda tidak tercantum di papan pengumuman
artinya sang pemuda gagal dalam seleksi, sang pemuda berpikir entah apa yang
menyebabkan dia gagal, namun setelah bertanya sana sini akhirnya disimpulkan
bahwa nama-nama yang lolos seleksi adalah nama-nama yang merupakan pesanan
kepada panitia, memanglah demikian adanya karena berdasarkan apa yang didengar
langsung oleh sang pemuda sebelum hari seleksi bahwa nama-nama KPPS sudah ada,
sehingga pemanggilan seleksi hanya formalitas saja, itulah bau busuk seleksi
KPPS.
Setelah ditilk
lebih dalam bahwa yang lolos KPPS ternyata orang orang yang sudah dipilh, bahkan ada kabar bahwa salah satu calon tidak dapat menjawab pertanyaan
PPS pun lolos, ada juga yang satu keluarga semuanya lolos dan yang
lebih hebat juga teman ngajar PPS Sugus lolos semua sedangkan pemuda dan satu
temannya yang guru MI ga diloloskan, dari itu, sang pemuda berniat
memberitahukan kepada sang ‘Jendral’ yang merupakan teman PPS Sugus itu agar
diberi nasehat, memang ‘Jendral’ itu merupakan jenderalnya sang pemuda, yang
lebih mengherankan lagi ada seorang calon yang pendidikan formalnya hanya kejar
paket yang hanya datang ketika ujian saja (ini diketahui setelah sang pemuda
ngobrol langsung dengan slah satu calon) pun lolos seleksi RUAAARRR BINASA.
Demikian kisah
sang pemuda, semoga sang pemuda mengurungkan niatnya untuk GOLPUT PILKADA
karena kecewa dengan proses seleksi yang berbau busuk.
Sebagai tambahan, ternyata penyeleksinya adalah penerus gen dari pemimpin desa zaman orde baru yang penulis ingat sangat tidak demokratis, sebagai contoh orangtu penulis dipersulit dalam administrasi, misalnya pernikahan atau jika ada sumbangan selalu tidak dapat, itu dilakukan perangkat desa saat itu karena kakek penulis atau orang tua dari ayah penulis adalah Ansor dan juga Kiai desa yang dulu berafiliasi pada PPP samapai menyatakan khittah, namun masih dikaitkan dengan partai tertentu utamanya PPP, sebagaimana diketahui partai saat itu cuma ada tiga selain Golkar dan PDI (tanpa Perjuangan).
Terimakasih....
Terimakasih....
Selasa, 17 Oktober 2017
INDAHNYA DESAKU
Sang surya mulai
memasuki peraduannya, dan selimut malam mulai menyisir setiap penjuru alam
fana, terdengar lirih dari kejauhan suara muadzin lewat corong ToA yang
menggunakan baterai accu, sebentar kemudian setelah puji-pijian suara
yang sama kini berkumandang namun kini ada tambahan qad qaamatissholah..ya suara qomat berkumandang menandakan waktu
shalat magrib akan segera dilaksanakan.
Sementara di ruang tamu
yang beralas tanah dengan tikar hasil karya sendiri terbuat dari anyaman daun
pandan (tepatnya lingi, sejenis tanaman semak yang biasanya tumbuh di pinggir
sungai) itu seorang ibu sedang bertaruh nyawa untuk menyambungkan kehidupan
seorang anak adam dari rahim ke alam dunia. Ya malam kliwon tahun 1981 itu
menjadi saksi lahirnya seorang anak yang kini tulisanya anda baca.
Dari samping rumah
terdengar bacaan yasin secara jamaah atau bersama, ya malam jum'at di langgar
(musholla) dimana diadakan jama'ah yasinan. malam itu kebahagiaan
keluarga ini bertambah dengan lahirnya seorang anak ke dunia ini. Dan malam ini
mereka tidur dengan perasaan penuh suka cita.
Semburat cahaya kuning
menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah
penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu
petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak
akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget
masing-masing.
Desa Poncoharjo
merupakan desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas, kali kanal menyapa
warga kampung saat memasuikinya yang terkenal dengan banyaknya ikan yang jenis dan beratnya
beraneka ragam dan biasa menjadi destinasai para pemancing di setiap harinya, tidak
hanya itu warga kampung yang mencari ikan di situ mampu mencukupi kebutuhan
hidupnya.
Kali kanal (Kali Jajar)
biasa warga menyebut menjadi sarana transportasi ke kota, ya dengan adanya kali
jajar yang tersambung ke Kracaan atau Pasar Bintoro Demak menjadi jalur
transportasi sungai menggunakan perahu, yang pada awalnya menggunakan tenaga
manusia (otot) menjadi penggeraknya dengan cara mengikat tali tambang yang
kemudian ditarik oleh satu orang menyusuri sungai sepanjang lebih kurang enam
kilometer menuju Kota Demak sedang satu orang di belakang kemudi. Perahu itu
berisi warga yang menuju ke kota baik untuk belanja atau untuk bekerja ke kota, penulis pun pernah mengalaminya saat berangkat ke pesantren di Jepara namun
sudah menggunakan mesin diesel tenaga solar.
Malam kembali menyelimuti
kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak
bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak
umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan
membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi
tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas
sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.
Asal Mula Jumputan
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput
atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan
dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis
berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan
dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian
kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral
yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama
pembangunan berlangsung.
Pada jaman dulu seingat
penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional
lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup
masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu
apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?
Jumputan pada jaman
dahulu medianya menggunakan potongan bambu (Bukan bekas gelas mineral) yang
dipotong dengan ukuran tertentu dekat dengan ros bambu diberi pegangan dan
lobang yang ditaruh di depan rumah-rumah penduduk namun dengan isi beras sesuai
ukuran potongan bambu tersebut. Untuk cara pengambilan persis yang sekarang
dilakukan yakni diambil oleh panitia setiap sore hari, ya beras menjadi sarana
penting saat itu yang menjadi makanan yang mempunyai nilai tinggi terlebih masa
tanam warga desa hanya satu kali dalam setahun baru setelah ada bendung karet
petani desa bisa tanam padi dua kali bahkan bisa tiga kali panen.
Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...
Semburat cahaya kuning menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget masing-masing.
Malam kembali menyelimuti kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput
atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan
dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis
berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan
dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian
kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral
yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama
pembangunan berlangsung.Pada jaman dulu seingat penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?
Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...
Minggu, 14 Mei 2017
SERBA SERBI PILKADES 2016
08.59
No comments
SERBA SERBI PILKADES 2016
“Kenalilah dirimu, maka lima puluh persen kemenanganmu, juga kenalilah
musuhmu, maka kamu akan memenangkan seluruhnya” (Ahli Politik).
Desa
merupakan bentuk pemerintahan kecil yang ada di kabupaten yang kepala
pemerintahannya disebuat
dengan kepala desa, kepala desa ini yang akan memimpin desanya selama enam
tahun kedepan (UU DESA 2014), hal ini berlaku untuk Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak
ini.
Pada 9
Oktober 2016 desa ini mengadakan pesta demokrasi yang diikuti oleh hampir seluruh
pemilik hak suara yang dengan berbondong-bondong datang ke TPS (Tempat
Pemungutan Suara) masing-masing.
Pada
periode ini PILKADES (Pemilihan Kepala Desa) Desa Poncoharjo diikuti oleh dua
orang kandidat saja yaitu Muhammad Mufid Yusuf dengan nomor urut satu dan Muhammad
Muslih dengan nomor urut dua.
Baca
juga
PILKADES
tahun ini mempunyai catatan tersendiri setidaknya oleh penulis sendiri yang
penulis amati dari sekian tahapan mulai dari awal sampai akhir, pada catatan
kali ini akan penulis paparkan beberapa catatan baik yang berupa fakta maupun
kisah-kisah mistis sekitar pilkades, atau cerita-cerita dari warga yang tentu
kebenarannya masih dipertanyakan, haha... tak apalah aku catatkan disini
sebagai bumbu-bumbu catatan PILKADES yang tentu lebih segar untuk dibaca oleh
pembaca yang budiman, dalam catatanku pada PILKADES kali ini penulis berada langsung di
lokasi dari sejak tahapan pengumuman sampai dengan pelantikan calon terpilih.
Sejak
hampir tiga bulan sebelum hari H pencoblosan pihak panitia yaitu pada BPD
(Badan Pemberdayaan Desa-Penulis) dan perangkat desa sudah membuat pengumuman
pembukaan pendaftaran PILKADES, namun pada hari H cuma ada 2 kandidat saja
siapa mereka, yakni dua orang yang sudah saya sebutkan di atas.
Pada
hari hari sebelum kampanye tampak Desa Poncoharjo yang terdiri dari tiga dukuh
yakni dukuh Krajan (pusat pemerintahan-penulis), Dukuh Poncol dan Dukuh Dopang,
sudah tersebar baliho baliho kandidat yang cukup besar-besar bahkan tentunya
para kandidiat sudah membentuk team sukses masing-masing yang oleh masyarakat
setempat dikenal dengan gapit itu, tentu ada catatan–catatan menarik
dalam proses berlangsung para gapit
ini, ya gapit menjadi ujung tombak dalam kesuksesan keterpilihan
(elektabilitas) kandidat, tentu orang yang dianggap preman akan mengajukan diri
menjadi gapit karenanya
mereka akan mendapatkan dana segar tanpa harus ‘berkerigat’ dalam mendapatkan uang yang nilainya bisa
mencapai jutaan rupiah itu. Sebagai contoh salah satu preman menuliskan
beberapa catatan nama orang yang tentu namanya itu fiktif yang akan menjadi
pendukung sang kandiddat, tentu ini akal-akalan sang preman untuk mendapatkan
dana segar yang lumayan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Selain
itu ada juga pemuda yang mengatasnamakan anak kampungnya mengajukan dana kepada masing-masing kandidat
untuk mendapatkan dana guna pembangunan posko kampung tentu saja pengajuan ini
akan diberikan oleh para kandidat untuk menjaga elektabilitas keterpilihannya
di PILKADES kali ini yang nilai rupiahnya bisa mencapai jutaan rupiah juga.
Pada
malam-malam setelah sang kandidat mendeklair dirinya untuk maju sebagai
kandidat kepala desa maka sang kandidat akan terus mengeluarkan uang untuk masa
jagong (kongkow), yang
berlangsung hampir dua bulan ini, lalu berapa rupiah yang harus dikeluarkan
oleh kandidiat pada masa-masa jagong itu, hemm...biar
ana ngambil kalkulator dulu...Ha..lumayan jutaan rupiah.
Pada
malam sebelum hari pencoblosan merupakan malam yang ditunggu masyarakat desa,
betapa tidak pada malam ini masyarakat akan disuguhkan tontonan menarik
sekaligus mendatangkan uang,
ya masyarakat akan mendapat uang politik dari tim sukses, pemilik hak suara
pada malam ini diberikan persuara Rp. 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah)
jika dihitung, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan satu anak yang
memiliki hak suara menjadi 450.000, ditambah uang yang sama dari kandidat yang
lain Rp.450.000 menjadi Rp.900.000, memang masyarakat akan mendapatkan uang
politik dari dua kandidat sekaligus, tidak hanya itu masyarakat pemilih akan
mendapatkan tambahan uang sebesar Rp.50.000 saat keluar dari pintu lokasi
pemilihan yang diberikan oleh perwakilan dari kedua kandidat, seperti yang
penulis amati dari wakil kedua kandidat yang satu memberikan ’amplop’ dan yang lain menuliskan (tepatnya menstobilo)
jumlah orang yang keluar pintu lokasi pencoblosan, jika ditambahkan dari dana
diatas satu keluarga bisa mendapatkan Rp. 1.050.000. Jika dikalikan dengan
seluruh pemilik suara yang berjumlah empat ribu lebih, maka bisa diprediksi
berapa uang yang harus dikeluarkan oleh kandidat...? Coba pembaca hitung
sendiri.
Namun
berdasarkan apa yang penulis dengar dari gapit masing-masing, bahwa
masing-masing kandidat mengeluarkan dana untuk menjadi kepala desa mencapai
1.700.000.000 ya, satu milyar tujuh ratus juta rupiah, wow jumlah yang
fantastis untuk menjadi lurah atau kepala desa, yang hanya enam tahun itu.
Tapi
meskipun dana yang harus dikeluarkan cukup besar namun ada harapan yang
diperoleh oleh kandidat jika terpilih menjadi kepala desa ya, bengkok sawah
yang mencapai 25 bau itu (sebelum
ada revisi Pergub/UU/sejenisnya,yang menyatakan bahwa bengkok dicabut sebagi
gaji lurah-penulis akan mengkaji kebenarannya) serta gaji berikut tunjangan-tunjangan dari
pemerintah masih dirasa cukup untuk mengembalikan dana politik yang cukup besar
itu.
Memang
masyarakat Demak terlebih masyarakat Desa Poncoharjo adalah masyarakat yang non
logis sehingga memandang pemilihan (Pemilihan apa saja dari kepala desa sampai
kepala Negara) dari berapa banyak uang yang akan mereka dapat untuk bisa
menyalurkan hak suaranya kepada kandidat, sehingga calon kepala desa hanya
dinilai dari uangnya bukan karena kinerja dan visi-misinya ke depan, untuk
itulah masyarakat jangan berharap banyak akan ada perubahan jika pemilihan desa
masih mengandalkan uang dan uang saja.
Disamping
pengeluaran yang sudah penulis tulis diatas ada pengeluaran-pengeluaran yang
lain yang harus dikeluarkan oleh kandidat antara lain saat pengembalian
formulir pendaftaran yang mencapai puluhan juta rupiah perkandidat untuk biaya
PILKADES tersebut.
Pada
hari pencoblosan semaraknya pemilihan desa begitu terasa ya, demokrasi uang
akan selalu menarik peminat, begitu berduyun-duyun mereka ke TPS untuk
mencoblos di masing-masing TPS. Memang pada kali ini bentuk TPS sedikit berubah
dari bentuk TPS pada pencoblosan sebelumnya, TPS kali ini diatur sedemikian
rupa yaitu TPS kali ini terdiri dari 9 TPS yang tersusun secara berurutan 1-9
yang akan diisi oleh kertas suara yang tercoblos dari RT-01/01 misalnya gang I
yang merupakan RT01 RW01 akan menempatkan kertas coblosannya di TPS 01 begitu
seterusnya, sehingga ketika pembacaan hasil suara akan terlihat jelas pada
kotak TPS 01 pendukung kandidat siapa, kotak TPS 02 pendukung kandidat siapa
dapat diketahui.
Pada
pembacaan hasil suara kotak TPS 1-5 hasil suara sudah jauh perbedaannya yang
pada awalnya dimenangkan oleh kandidat satu yaitu Muhammad Mufid Yusuf dengan selih suara
empat ratusan suara lebih hal ini menjadkan gelisah kandidat dua sedangkan
kandidat satu selalu tersenyum, padahal ini baru awal dari drama yang akan
menguras emosi pada pembacaan hasil suara pada TPS selanjutnya.
Mulai
pada TPS 06 yang merupakan TPS kampung Madrasah yang notabenenya adalah kampung
kandidat nomor dua, suasana mulai tegang ya, suara banyak berpihak pada
kandidat dua akhirnya secara telak kandidat dua menyusul tajam bahklan sampai TPS
Poncol kandidat dua menang sehingga selisih semakin tipis, bahkan hanya tersisa
selisih puluhan kecil saja, sampai TPS Dopang akhirnya kandidiat dua menjadi
kampiun dengan selisih hanya
sebelas suara saja miris..
Pada
lanjutan tulisanku ini akan kami coba paparkan beberapa efek sosial dari PILKADES
2016 ini, apa itu ya.,..PILKADES membawa dampak yang cukup serius dalam
kehidupan sosial masyarakat desa yakni tentang kehidupan bertetangga, antara
lain yaitu:
·
Ada salah satu kisah, dalam
sebuah kampung seorang yang mempunyai kambing piaraan yang mempunyai kandang yang ditempatkan disamping pendukung lawannya, yang
ketika lewat untuk mengkandangkan hewan piaraannya harus melewati samping (torong)
pihak yang berlawanan, kemudian harus dilarang untuk melewatinya, sehingga pihak yang mempunyai hewan piaraan harus
rela membuat kandang di luar kampung yang cukup jauh dari kampungnya karena memang tidak mempunyai lahan
lagi untuk membuat kandang di
lahannya.
·
Cerita yang lain adalah ada
dua keluarga yang berbesanan dengan dukungan yang berbeda antara keluarga besan
satu dengan keluarga besan yang lain, setelah hasil pemilihan diumumkan yang
hanya berbeda sebelas suara saja, kemudian berdampak pada keluarga ini yakni akan terjadi konflik
dengan dua besan tadi, yang awalnya baik-baik saja kemudian terjadi konflik
yang berkepanjangan, ya...adalah anak dari besan tadi yang masih hidup serumah
dengan mertuanya namun mendukung kandidat yuang berlawanan dengan mertuanya
karena ngeboti dengan orang tuanya sendiri yang mendukung pihak yang
berlawanan dengan mertuanya sendiri padahal ia sendiri hidup dalam
keluarga mertuanya, maka ketika pihak lawan dari mertuanya yang menang maka
mertuanya itu tidak lagi mempedulikan menantunya itu.
·
Diantara kisah unik yang lain adalah bahwa salah satu kandidat
menjanjkan konser dangdut mewah jika mau memilih dirinya, sehingga para pemuda yang notabenenya suka denga dangdutan akan
memilih dirinya, benar saja cara ini menjadi cara yang jitu untuk menarik para voter (pemilih) pemuda untuk memilih dirinya, dan ini
terbukti, lain lagi bagi para kiai yang mendukung pihak yang menjanjikan
dangdutan dan menang maka,
para kiai itu disebut kiai dangdutan sindir para pemilih yang penduing pihak
berlawanan.
·
Kisah yang lain adalah anak
dari pihak yang pada pemilihan sebelumnya kalah dalam perebutan kursi kepala
desa menyebarkan uang untuk kemengan pihak yang lain yang pada pemilihan orang
tuanya tidak memilih orang tuanya, meski mereka adalah masih ada ikatan saudara, dan memang untuk itulah dia
menyebarkan uang agar saudara sendiri tidak menang demi membalas ‘sakit hati’
pada pemilihan sebelumnya.
·
Seperti yang saya sebut
diatas bahwa masing-masing kandidat menawarkan konser, kandidat satu menawarkan
konser sholawat Habib Syeh yang lainnya menawarkan Konser Dangdhut New Pallapa
yang merupkan kesenangan anak muda warga Desa Poncoharjo, selain itu salah satu
kandidat menawarkan kupon hadiah berupa Motor, Kulkas, dan barang-barang
lainnya yang akan dibagikan pada saat pemilihan selesai dan dimenangkan olehnya
hal ini tentu upaya untuk menarik pemilih kedalam lingkarannya yang dibagikan saat pembagian
uang politik pada malam harinya.
·
Kisah lain, salah satu
kandidat (coba tebak siapa,malah main tebak-tebakan) membuat acara yang
menurut mereka disebut Istighasah (memohon
pertolongan-penulis) yang berisi bacaan bacaan dalam ayat Al Qur’an yang
agung dan ditambahkan bacaan-bacaan yang secara bahasa adalah bahasa jawa.
·
Tidak sekedar itu, tentu dari
pihak pihak yang mencalonkan diri sudah mencari orang-orang pintar untuk ‘minta
restu’ agar dirinya lulus dan lolos menjadi kampiun di pesta demokrasi ala wong
deso ini alias mejadi kepala
desa.
·
Salah satu kandidat
mengandalkan support atau dukungan dari banyak pihak tidak sekedar dukungan
pemilihan (ini seperti yang penulis dengar, kepastiannya tolong tanyakan
sendiri-kalau berani
hehe....) bahwa support dana berasal dari beberapa
pihak yang mendukung dirinya untuk maju yang berasal dari para donatur yang
dibilang orang orang kaya di desa tersebut sehingga praktis dana kampanyenya
dari sumbangan donatur yang cukup besar, disamping dari kantong pribadi yang
tidak bisa dibilang sedikit.
·
Kisah mistis lain adalah
kisah Wahyu Keprabon, alkisah sebelum arak-arakan salah satu kandidat
yang melewati kandidat yang lain, kandidat tersebut seperti susah melangkahkan
kakinya, baru saat kandidat yang lain melewati dirinya dan seberkas cahanya
masuk kedalam dirinya maka kandidat ini mampu melangkahkan kakinya menuju
lokasi pemilihan, lain lagi bagi beberapa orang yang melihat ketika waktu subuh
baru saja berlalu dari atas terlihat seperti lintang ngaleh (bintang
jatuh) jatuh kerumah kandidat yang
menang hal itu merka saksikan ketika mereka ingin buang hajat pada pagi hari,
ini yang penulis dengar ketika dia ngobrol dengan penulis.
Demikian
sedikit catatanku tentang serba-serbi PILKADES 2016 yang sedikit ini mungkin
dilain kesempatan akan kami catatkan kembali disini, mohon maaf untuk pihak-pihak yang terkait
dalam tulisan ini, bukan untuk membuka luka lama atau yang lain, ini hanya sekedar catatan yang
menjadi tanggungan moral seorang penulis untuk mendokumentasikannya agar
bermanfaat dimasa yang akan datang, trims.












