ASAL USUL BARONGAN
BARONGAN VERSES REOG SERTA ASAL USULNYA
Pada dasarnya penulis bukan hendak menjelaskan sejarah atau
asal mula ‘Barongan’ karena penulis sendiri tidak tahu persis asal usulnya,
namun penulis hanya akan menuliskan asal mula Reog Ponorogo berdasar atas
sumber yang menjadi rujukan penulis.
Adapun rujukan asal mula Reog Ponorogo adalah buku “Sabda
Palon- Dhamar Shasongko” yang menjelaskan panjang lebar dan cukup menarik untuk
dibaca tentang sejarah masa lalu dikemas dalam bahasa novel.
Alkisah, pada zaman kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Brawijaya
V (±1500M) sang raja yang terkenal dengan pecinta sejati wanita wanita cantik,
yang kemudian mempersunting selir yang cantik jelita dari negeri Champa, yang
kemudian salah satu (Raja Brawijaya terkenal dengan banyak istri) permaisurinya
sendiri diserahkan kepada Adipati Pelembang yang pada saat itu sedang
mengandung Raden Patah (kelak menjadi raja Islam Jawa Demak), namun ternyata
setelah menikah dengan permaisuri barunya Kerajaan Majapahit di bawah kendali
sang permaisuri barunya tersebut, kebijakan yang berkaitan dengan pemerintahan
selalu di bawah kendali sang permaisuri barunya, setelah sekian lama di bawah
kendali sang permaisuri lambat laun marwah pemerintahan Majapahit yang
membentang luas sampai ke Philipina saat ini berkat jasa Mahapatih Gajah Mada akhirnya
semakin melemah, Negara-negara bawahan banyak yang melepaskan diri, melihat
perkembangan pemerintahan Majapahit yang semakin melemah menjadi perhatian
Adipati Ponorogo yang tiada lain masih berhubungan darah dengan raja Majapahit itu.
Di suatu kesempatan saat perayaan tahunan yang biasa diadakan
oeh pemerintahan kutaraja yaitu saat
perayaan tahunan dan semua negeri bawahan harus menghadap ke ibukota kerajaan
Majapahit sebagai bukti kesetiaan serta harus menampilkan kreasi seni dan
pertunjukan, maka saat itulah terbersit pada diri Adipati Ponorogo untuk
membuat kreasi seni yang sekarang ini kita sebut dengan tarian Reog Ponorogo.
Tarian ini menggunakan piranti tari bernama Dhadak Merak,
yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan
bulu-bulu burung merak di atasnya. Dhadak merak ini dimainkan oleh satu orang,
dengan diiringi oleh prajurid yang bertingkah seperti banci (sekarang
dimainkan oleh wanita tulen). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujanganom dan
satu orang Jathilan, melompat lompat seperti orang gila.
Dari model dan bentuk di atas sebenarnya adalah kreasi dari Adipati
Wengker Ponorogo sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah kerajaan Majapahit,
apa itu bentuk sindirannya.
Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya di bawah selangkangan sang burung merak. Para Prajurid Majapahid sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, para pejabat terasa acuh tak acuh.
Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya di bawah selangkangan sang burung merak. Para Prajurid Majapahid sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, para pejabat terasa acuh tak acuh.
Dikisahkan juga setelah raja tertarik dengan tarian dari
utusan Adipati Ponorogo, lalu raja meminta penjelasan tentang tariannya,
dijawab oleh Adipati seperti apa yang penulis jelaskan di atas, seketika
marahlah raja Brawijaya sehingga terjadilah perang saudara yang mengerikan itu, akhirnya Ponorogo
yang hanya kerajaan kecil harus menerima kekalahan, dan ratusan bahkan ribuan
nyawa harus tewas sia-sia karena perang Warog Ponorogo ini.
Demikian kisah Reog Ponorogo, adapun barongan menurut penulis
terilhami dari reog ini, sebagaimana diketahui bahwa barongan yang ada saat ini
seperti KUSUMOJOYO, KADEMANGAN dan yang lain merupakan barongan modern, karena
barongan dulu tidaklah sebagus sekarang, dulu barongan dibuat dengan sederhana,
seperti barongan dari Cuwati yang sekarang sedang mati suri ini.
Yang menarik adalah tarian 'Reog Ponorogo' ini adalah sindiran bagi para lelaki petualng cinta yang hanya memperturut nafsu semata lalu melupakan tugasnya sebagai pemimpim, apakah itu pemimpin kerajaan, sampai pemimpin desa sekalipun, lalu bagaimana dengan pemimpinmu apakah seperti itu, silahkan anda bertafakkur sendiri
Wallahu A'lam.








0 comments:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda disini