Rabu, 11 Juli 2018

KULIAH YES RADIKAL NO

SELAMAT KULIAH TAPI JANGAN RADIKAL YA!

Hampir sebagian besar orang yang pernah belajar di bangku sekolah SMA mengatakan bahwa masa indah dalam pendidikan adalah masa SMA, namun tidak bagi penulis, masa terindah adalah masa studi di bangku kuliah, penulis bisa mengatakan itu barangkali masa pendidikan penulis sejak di bangku Madrasah Tsanawiyah (Setingkat SMP) sampai dengan Madrasah Aliyah (setingkat SMA) dihabiskan di lingkungan pesantren yang jika ditilik dari kehidupannya hanya sekolah ke pesantren dan sebaliknya, demikian terus setiap hari sampai lulus Aliyah.
Suasana berbeda saat memasuki jenjang perkuliahan, masa-masa SMA seperti berubah seratus delapanpuluh drajat, saat SMA mungkin masih jaim (itu jaman gue) ga tahu kalau anak jaman sekarang.
Pada saat masuk ke jenjang perkuliahan pertama tentu banyak yang membuka stand-stand, stand di sini bukanlah stand berjualan ala kaki lima, tetapi banyak yang membuka pendaftaran organisasi-organisasi ke mahasiswaan yang dilakukan oleh kader organisasi kemahasiswaan, antara lain HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), KAMMI, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), dan masih banyak lagi yang lainnya,
Dimasa kuliah inilah sebaiknya kita tidak sekedar barangkat pulang kuliah saja, tetapi sebaiknya kita juga aktif dalam kegiatan dalam organisasi kemahasiswaan, tetapi ingat sebaiknya kita selektif dalam memilih organisasi yang sesuai dengan latar belakang kita, betapa tidak, ada organisasi yang bersifat tertutup atau underground yang dalam pergerakannya lebih bersifat sembunyi-sembunyi, yang seperti inilah yang perlu diwaspadai karena sudah pasti cenderung pada organisasi radikal
CIRI-CIRI GERAKAN RADIKAL
Berikut akan penulis uraikan ciri-ciri gerakan radikal dari pengalaman pribadi penulis yang pernah masuk dalam gerakan radikal sebelum tahu dan akhirnya keluar.
·         POLA DAKWAH
Dalam gerakan radikal biasanya dibalut dengan cara serta konsep dakwah, namun hal ini bagi kita yang sudah pernah berpendidikan madrasah sedikit banyak mampu menghalau dakwah radikal ini, karena tidak sesuai yang diajarkan guru-guru madrasah sejak kecil dulu.
·         Materi Dakwah
Selain konsepnya dakwah, dalam materi dakwahnya menggunakan konsep ‘Takfiri’, yaitu mengutip ayat-ayat yang mengkafirkan orang lain,
·         Kutipan Ayat Al Qur’an
Dalam mengutip ayat Al Qur’an diambil potongan-potongan ayat sebagai berikut:
ü  QS Al Maidah ayat 44, 45 dan 47 namun hanya diartikan secara terjemah saja tidak menggunakan  tafsir ulama klasik yang biasa dilakukan ulama atau guru-guru kita.
Berikut teks QS Al Maidah Tersebut:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (44)

44. …Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.


 وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (45)

45. …Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (47)

47….Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

Dalam praktek pengajarannya sebagaimana yang penulis pernah alami adalah pembicara panjang lebar ‘menghakimi’ hukum di Indonesia yang toghut lalu pendengar disuruh membuka ayat diatas dan membaca terjemahannya, kemudian penceramah membandingkan hukum di Indonesia lalu duaarr semua orang dihukumi kafir.
Namun Alhamdulillah-nya, ketika penceramah menulis di papan tulis bahasa arab, eh ternyata tidak menguasai tulisan arab, dari sini penulis menyimpulkan bahwa penceramah tersebut tidak menguasi agama secara baik sehingga penulis merasa tidak cocok dengan ceramah agamanya.
Selalu mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham dengan diri mereka, ini ciri yang sangat jelas terlihat, jika dalam dakwah isinya hanya mengkafirkan setiap orang -sekali lagi setiap orang- maka sudah pasti anda sudah masuk ke dalam ’LIQO’ atau pengajian dakwah ala kaum radikal, sebagai catatan bahwa kata kafir pemahaman awam harus dibunuh atau halal darahnya atau masuk neraka.
Jika anda mengikuti dakwah dengan ciri di atas secepatnya anda harus walk out atau keluar dari pengajian tersebut, dengan kata lain anda harus selektif masuk organisasi, pilihlah organisasi yang sudah populer dekat dengan islam rahmatan lil ‘alamin seperti HMI dan PMII.
Itulah sekedar pengetahuan sebagai pembekalan pada pemuda-pemuda yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, namun harus tetap waspada menjaga aqidah dari ajakan untuk menjadi radikal.
(mohon koreksi jika salah)
Wallahu A’lam


Rabu, 04 Juli 2018

ASAL MULA BARONGAN


ASAL USUL BARONGAN
BARONGAN VERSES REOG SERTA ASAL USULNYA

Pada dasarnya penulis bukan hendak menjelaskan sejarah atau asal mula ‘Barongan’ karena penulis sendiri tidak tahu persis asal usulnya, namun penulis hanya akan menuliskan asal mula Reog Ponorogo berdasar atas sumber yang menjadi rujukan penulis.
Adapun rujukan asal mula Reog Ponorogo adalah buku “Sabda Palon- Dhamar Shasongko” yang menjelaskan panjang lebar dan cukup menarik untuk dibaca tentang sejarah masa lalu dikemas dalam bahasa novel.
Alkisah, pada zaman kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Brawijaya V (±1500M) sang raja yang terkenal dengan pecinta sejati wanita wanita cantik, yang kemudian mempersunting selir yang cantik jelita dari negeri Champa, yang kemudian salah satu (Raja Brawijaya terkenal dengan banyak istri) permaisurinya sendiri diserahkan kepada Adipati Pelembang yang pada saat itu sedang mengandung Raden Patah (kelak menjadi raja Islam Jawa Demak), namun ternyata setelah menikah dengan permaisuri barunya Kerajaan Majapahit di bawah kendali sang permaisuri barunya tersebut, kebijakan yang berkaitan dengan pemerintahan selalu di bawah kendali sang permaisuri barunya, setelah sekian lama di bawah kendali sang permaisuri lambat laun marwah pemerintahan Majapahit yang membentang luas sampai ke Philipina saat ini berkat jasa Mahapatih Gajah Mada akhirnya semakin melemah, Negara-negara bawahan banyak yang melepaskan diri, melihat perkembangan pemerintahan Majapahit yang semakin melemah menjadi perhatian Adipati Ponorogo yang tiada lain masih berhubungan darah dengan raja Majapahit itu.
Di suatu kesempatan saat perayaan tahunan yang biasa diadakan oeh pemerintahan  kutaraja yaitu saat perayaan tahunan dan semua negeri bawahan harus menghadap ke ibukota kerajaan Majapahit sebagai bukti kesetiaan serta harus menampilkan kreasi seni dan pertunjukan, maka saat itulah terbersit pada diri Adipati Ponorogo untuk membuat kreasi seni yang sekarang ini kita sebut dengan tarian Reog Ponorogo.
Tarian ini menggunakan piranti tari bernama Dhadak Merak, yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan bulu-bulu burung merak di atasnya. Dhadak merak ini dimainkan oleh satu orang, dengan diiringi oleh prajurid yang bertingkah seperti banci (sekarang dimainkan oleh wanita tulen). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujanganom dan satu orang Jathilan, melompat lompat seperti orang gila.
Dari model dan bentuk di atas sebenarnya adalah kreasi dari Adipati Wengker Ponorogo sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintah kerajaan Majapahit, apa itu bentuk sindirannya. 
Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya di bawah selangkangan sang burung merak. Para Prajurid Majapahid sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, para pejabat terasa acuh tak acuh.
Dikisahkan juga setelah raja tertarik dengan tarian dari utusan Adipati Ponorogo, lalu raja meminta penjelasan tentang tariannya, dijawab oleh Adipati seperti apa yang penulis jelaskan di atas, seketika marahlah raja Brawijaya sehingga terjadilah perang  saudara yang mengerikan itu, akhirnya Ponorogo yang hanya kerajaan kecil harus menerima kekalahan, dan ratusan bahkan ribuan nyawa harus tewas sia-sia karena perang Warog Ponorogo ini.
Demikian kisah Reog Ponorogo, adapun barongan menurut penulis terilhami dari reog ini, sebagaimana diketahui bahwa barongan yang ada saat ini seperti KUSUMOJOYO, KADEMANGAN dan yang lain merupakan barongan modern, karena barongan dulu tidaklah sebagus sekarang, dulu barongan dibuat dengan sederhana, seperti barongan dari Cuwati yang sekarang sedang mati suri ini.

Yang menarik adalah tarian 'Reog Ponorogo' ini adalah sindiran bagi para lelaki petualng cinta yang hanya memperturut nafsu semata lalu melupakan tugasnya sebagai pemimpim, apakah itu pemimpin kerajaan, sampai pemimpin desa sekalipun, lalu bagaimana dengan pemimpinmu apakah seperti itu, silahkan anda bertafakkur sendiri
Wallahu A'lam.