Sang surya mulai
memasuki peraduannya, dan selimut malam mulai menyisir setiap penjuru alam
fana, terdengar lirih dari kejauhan suara muadzin lewat corong ToA yang
menggunakan baterai accu, sebentar kemudian setelah puji-pijian suara
yang sama kini berkumandang namun kini ada tambahan qad qaamatissholah..ya suara qomat berkumandang menandakan waktu
shalat magrib akan segera dilaksanakan.
Sementara di ruang tamu
yang beralas tanah dengan tikar hasil karya sendiri terbuat dari anyaman daun
pandan (tepatnya lingi, sejenis tanaman semak yang biasanya tumbuh di pinggir
sungai) itu seorang ibu sedang bertaruh nyawa untuk menyambungkan kehidupan
seorang anak adam dari rahim ke alam dunia. Ya malam kliwon tahun 1981 itu
menjadi saksi lahirnya seorang anak yang kini tulisanya anda baca.
Dari samping rumah
terdengar bacaan yasin secara jamaah atau bersama, ya malam jum'at di langgar
(musholla) dimana diadakan jama'ah yasinan. malam itu kebahagiaan
keluarga ini bertambah dengan lahirnya seorang anak ke dunia ini. Dan malam ini
mereka tidur dengan perasaan penuh suka cita.
Semburat cahaya kuning
menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah
penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu
petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak
akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget
masing-masing.
Desa Poncoharjo
merupakan desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas, kali kanal menyapa
warga kampung saat memasuikinya yang terkenal dengan banyaknya ikan yang jenis dan beratnya
beraneka ragam dan biasa menjadi destinasai para pemancing di setiap harinya, tidak
hanya itu warga kampung yang mencari ikan di situ mampu mencukupi kebutuhan
hidupnya.
Kali kanal (Kali Jajar)
biasa warga menyebut menjadi sarana transportasi ke kota, ya dengan adanya kali
jajar yang tersambung ke Kracaan atau Pasar Bintoro Demak menjadi jalur
transportasi sungai menggunakan perahu, yang pada awalnya menggunakan tenaga
manusia (otot) menjadi penggeraknya dengan cara mengikat tali tambang yang
kemudian ditarik oleh satu orang menyusuri sungai sepanjang lebih kurang enam
kilometer menuju Kota Demak sedang satu orang di belakang kemudi. Perahu itu
berisi warga yang menuju ke kota baik untuk belanja atau untuk bekerja ke kota, penulis pun pernah mengalaminya saat berangkat ke pesantren di Jepara namun
sudah menggunakan mesin diesel tenaga solar.
Malam kembali menyelimuti
kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak
bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak
umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan
membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi
tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas
sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.
Asal Mula Jumputan
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput
atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan
dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis
berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan
dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian
kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral
yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama
pembangunan berlangsung.
Pada jaman dulu seingat
penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional
lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup
masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu
apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?
Jumputan pada jaman
dahulu medianya menggunakan potongan bambu (Bukan bekas gelas mineral) yang
dipotong dengan ukuran tertentu dekat dengan ros bambu diberi pegangan dan
lobang yang ditaruh di depan rumah-rumah penduduk namun dengan isi beras sesuai
ukuran potongan bambu tersebut. Untuk cara pengambilan persis yang sekarang
dilakukan yakni diambil oleh panitia setiap sore hari, ya beras menjadi sarana
penting saat itu yang menjadi makanan yang mempunyai nilai tinggi terlebih masa
tanam warga desa hanya satu kali dalam setahun baru setelah ada bendung karet
petani desa bisa tanam padi dua kali bahkan bisa tiga kali panen.
Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...
Semburat cahaya kuning menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget masing-masing.
Malam kembali menyelimuti kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput
atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan
dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis
berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan
dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian
kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral
yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama
pembangunan berlangsung.Pada jaman dulu seingat penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?
Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...








0 comments:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda disini