Selasa, 17 Oktober 2017

INDAHNYA DESAKU

INDAHNYA DESAKU

Sang surya mulai memasuki peraduannya, dan selimut malam mulai menyisir setiap penjuru alam fana, terdengar lirih dari kejauhan suara muadzin lewat corong ToA yang menggunakan baterai accu, sebentar kemudian setelah puji-pijian suara yang sama kini berkumandang namun kini ada tambahan  qad qaamatissholah..ya suara qomat berkumandang menandakan waktu shalat magrib akan segera dilaksanakan.

Sementara di ruang tamu yang beralas tanah dengan tikar hasil karya sendiri terbuat dari anyaman daun pandan (tepatnya lingi, sejenis tanaman semak yang biasanya tumbuh di pinggir sungai) itu seorang ibu sedang bertaruh nyawa untuk menyambungkan kehidupan seorang anak adam dari rahim ke alam dunia. Ya malam kliwon tahun 1981 itu menjadi saksi lahirnya seorang anak yang kini tulisanya anda baca.

Dari samping rumah terdengar bacaan yasin secara jamaah atau bersama, ya malam jum'at di langgar (musholla)  dimana diadakan jama'ah yasinan. malam itu kebahagiaan keluarga ini bertambah dengan lahirnya seorang anak ke dunia ini. Dan malam ini mereka  tidur dengan perasaan penuh suka cita.

Semburat cahaya kuning menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget masing-masing.

Desa Poncoharjo merupakan desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas, kali kanal menyapa warga kampung saat memasuikinya yang terkenal dengan banyaknya ikan yang jenis dan beratnya beraneka ragam dan biasa menjadi destinasai para pemancing di setiap harinya, tidak hanya itu warga kampung yang mencari ikan di situ mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.



Kali kanal (Kali Jajar) biasa warga menyebut menjadi sarana transportasi ke kota, ya dengan adanya kali jajar yang tersambung ke Kracaan atau Pasar Bintoro Demak menjadi jalur transportasi sungai menggunakan perahu, yang pada awalnya menggunakan tenaga manusia (otot) menjadi penggeraknya dengan cara mengikat tali tambang yang kemudian ditarik oleh satu orang menyusuri sungai sepanjang lebih kurang enam kilometer menuju Kota Demak sedang satu orang di belakang kemudi. Perahu itu berisi warga yang menuju ke kota baik untuk belanja atau untuk bekerja ke kota, penulis pun pernah mengalaminya saat berangkat ke pesantren di Jepara namun sudah menggunakan mesin diesel tenaga solar.

Malam kembali menyelimuti kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.

Asal Mula Jumputan
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama pembangunan berlangsung.

Pada jaman dulu seingat penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?

Jumputan pada jaman dahulu medianya menggunakan potongan bambu (Bukan bekas gelas mineral) yang dipotong dengan ukuran tertentu dekat dengan ros bambu diberi pegangan dan lobang yang ditaruh di depan rumah-rumah penduduk namun dengan isi beras sesuai ukuran potongan bambu tersebut. Untuk cara pengambilan persis yang sekarang dilakukan yakni diambil oleh panitia setiap sore hari, ya beras menjadi sarana penting saat itu yang menjadi makanan yang mempunyai nilai tinggi terlebih masa tanam warga desa hanya satu kali dalam setahun baru setelah ada bendung karet petani desa bisa tanam padi dua kali bahkan bisa tiga kali panen.

Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...

0 comments:

Posting Komentar

tinggalkan komentar anda disini