Tampilkan postingan dengan label desa poncoharjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desa poncoharjo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2018

Pemilihan KPPS 2018


BAU BUSUK PEMILIHAN KPPS

Suatu hari seorang pemuda dengan penuh semangat mengumpulkan berkas -berkas untuk pemilihan KPPS di suatu desa berharap bisa  bergabung untuk sekedar meramaikan kontestasi politik yang penuh gembira namun ternyata niat baik itu mentok di tengah jalan bukan karena persyaratan tidak mencukupi namun karena proses pemilihannya yang tidak akuntabel, berikut ceritanya;
Semburat cahaya kuning muncul di ufuk timur, surya pagi menyapa warga desa Pancajaya dengan cerah ceria. Seorang pemuda dengan percaya diri mengumpulkan berkas yang terdiri dari ijasah sarjana, pas foto, Kopi identitas serta berkas kelengkapan lainnya, menyusul info di papan pengumuman tentang pemilihan KPPS (Kami Para Pecinta Sejati) (jangan protes ini kepanjangan gue aja ga usah dikait2in)
Hari itu surat undangan sampai di tangan sang pemuda yang isinya tentu seleksi wawancara pemilihan KPPS oleh PPS (Para Pecinta Sejati) (jangan protes terserah gue, jangan dikaitkan), setelah dibaca mengertilah sang pemuda untuk hadir pada hari yang tertera di surat undangan tersebut.
Hari itu setelah mandi dan berpakaian rapi sang pemuda datang ke lokasi wawancara di AULA desa Pancajaya tersebut. Setelah mengisi absensi serta mengantri cukup lama tibalah sang pemuda mendapat giliran wawancara dan tepat saat itu pemuda itu diwawancara oleh Sugus yang sebenarnya teman waktu SMA sang pemuda tersebut, setelah ngobrol beberapa saat Sugus akhirnya meminta sang pemuda untuk menulis nama serta tandatangan, setelah itu Sugus hanya ngobrol tanpa menanyakan sama sekali subtansi dari pemilihan bahkan bertanya tentang kondisi kantor sang pemuda, selesai wawancara sang pemudapun pulang ke rumah namun sebelum pulang berpapasan dengan calon yang lain yang datang belakangan. Belakangn orang-orang yang datang terlamabat tadi yang diyakini tidak ikut tes wawancara lolos seleksi.
Sampai hari pengumuman tiba, ternyata nama sang pemuda tidak tercantum di papan pengumuman artinya sang pemuda gagal dalam seleksi, sang pemuda berpikir entah apa yang menyebabkan dia gagal, namun setelah bertanya sana sini akhirnya disimpulkan bahwa nama-nama yang lolos seleksi adalah nama-nama yang merupakan pesanan kepada panitia, memanglah demikian adanya karena berdasarkan apa yang didengar langsung oleh sang pemuda sebelum hari seleksi bahwa nama-nama KPPS sudah ada, sehingga pemanggilan seleksi hanya formalitas saja, itulah bau busuk seleksi KPPS.
Setelah ditilk lebih dalam bahwa yang lolos KPPS ternyata orang orang yang sudah dipilh, bahkan ada kabar bahwa salah satu calon tidak dapat menjawab pertanyaan PPS pun lolos, ada juga yang satu keluarga semuanya lolos dan yang lebih hebat juga teman ngajar PPS Sugus lolos semua sedangkan pemuda dan satu temannya yang guru MI ga diloloskan, dari itu, sang pemuda berniat memberitahukan kepada sang ‘Jendral’ yang merupakan teman PPS Sugus itu agar diberi nasehat, memang ‘Jendral’ itu merupakan jenderalnya sang pemuda, yang lebih mengherankan lagi ada seorang calon yang pendidikan formalnya hanya kejar paket yang hanya datang ketika ujian saja (ini diketahui setelah sang pemuda ngobrol langsung dengan slah satu calon) pun lolos seleksi RUAAARRR BINASA.
Demikian kisah sang pemuda, semoga sang pemuda mengurungkan niatnya untuk GOLPUT PILKADA karena kecewa dengan proses seleksi yang berbau busuk.

Sebagai tambahan, ternyata penyeleksinya adalah penerus gen dari pemimpin desa zaman orde baru yang penulis ingat sangat tidak demokratis, sebagai contoh orangtu penulis dipersulit dalam administrasi, misalnya pernikahan atau jika ada sumbangan selalu tidak dapat, itu dilakukan perangkat desa saat itu karena kakek penulis atau orang tua dari ayah penulis adalah Ansor  dan juga Kiai desa yang dulu berafiliasi pada PPP samapai menyatakan khittah, namun masih dikaitkan dengan partai tertentu utamanya PPP, sebagaimana diketahui partai saat itu cuma ada tiga selain Golkar dan PDI (tanpa Perjuangan).
Terimakasih....


Selasa, 17 Oktober 2017

INDAHNYA DESAKU

INDAHNYA DESAKU

Sang surya mulai memasuki peraduannya, dan selimut malam mulai menyisir setiap penjuru alam fana, terdengar lirih dari kejauhan suara muadzin lewat corong ToA yang menggunakan baterai accu, sebentar kemudian setelah puji-pijian suara yang sama kini berkumandang namun kini ada tambahan  qad qaamatissholah..ya suara qomat berkumandang menandakan waktu shalat magrib akan segera dilaksanakan.

Sementara di ruang tamu yang beralas tanah dengan tikar hasil karya sendiri terbuat dari anyaman daun pandan (tepatnya lingi, sejenis tanaman semak yang biasanya tumbuh di pinggir sungai) itu seorang ibu sedang bertaruh nyawa untuk menyambungkan kehidupan seorang anak adam dari rahim ke alam dunia. Ya malam kliwon tahun 1981 itu menjadi saksi lahirnya seorang anak yang kini tulisanya anda baca.

Dari samping rumah terdengar bacaan yasin secara jamaah atau bersama, ya malam jum'at di langgar (musholla)  dimana diadakan jama'ah yasinan. malam itu kebahagiaan keluarga ini bertambah dengan lahirnya seorang anak ke dunia ini. Dan malam ini mereka  tidur dengan perasaan penuh suka cita.

Semburat cahaya kuning menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget masing-masing.

Desa Poncoharjo merupakan desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas, kali kanal menyapa warga kampung saat memasuikinya yang terkenal dengan banyaknya ikan yang jenis dan beratnya beraneka ragam dan biasa menjadi destinasai para pemancing di setiap harinya, tidak hanya itu warga kampung yang mencari ikan di situ mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.



Kali kanal (Kali Jajar) biasa warga menyebut menjadi sarana transportasi ke kota, ya dengan adanya kali jajar yang tersambung ke Kracaan atau Pasar Bintoro Demak menjadi jalur transportasi sungai menggunakan perahu, yang pada awalnya menggunakan tenaga manusia (otot) menjadi penggeraknya dengan cara mengikat tali tambang yang kemudian ditarik oleh satu orang menyusuri sungai sepanjang lebih kurang enam kilometer menuju Kota Demak sedang satu orang di belakang kemudi. Perahu itu berisi warga yang menuju ke kota baik untuk belanja atau untuk bekerja ke kota, penulis pun pernah mengalaminya saat berangkat ke pesantren di Jepara namun sudah menggunakan mesin diesel tenaga solar.

Malam kembali menyelimuti kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.

Asal Mula Jumputan
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama pembangunan berlangsung.

Pada jaman dulu seingat penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?

Jumputan pada jaman dahulu medianya menggunakan potongan bambu (Bukan bekas gelas mineral) yang dipotong dengan ukuran tertentu dekat dengan ros bambu diberi pegangan dan lobang yang ditaruh di depan rumah-rumah penduduk namun dengan isi beras sesuai ukuran potongan bambu tersebut. Untuk cara pengambilan persis yang sekarang dilakukan yakni diambil oleh panitia setiap sore hari, ya beras menjadi sarana penting saat itu yang menjadi makanan yang mempunyai nilai tinggi terlebih masa tanam warga desa hanya satu kali dalam setahun baru setelah ada bendung karet petani desa bisa tanam padi dua kali bahkan bisa tiga kali panen.

Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...

Minggu, 23 Agustus 2015

Demokrasi Ala Wong Ndeso 2


DEMOKRASI ALA WONG DESO II
(Oleh:Zaini Addimawy)

Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak kini sudah PlT. (Pelaksana Tugas) dalam pemerintahannya yang sebelumnya dipimpin oleh kepala desa yang lama yaitu Haji Sutrisno. Hal ini tentu menjadikan warga mulai menerka-nerka siapa kelak yang maju sebagai kepala desa.



Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak memang unik, unik karena beberapa hal terutama demokrasi dalam pemilihan kepala desa, seperti diketahui penulis, seorang calon kandidat kepala desa harus mengganti namanya secara mistis, dengan maksud supaya terhindar dari serangan yang bersifat mistis, misalnya santet atau teluh.

Selain merubah nama seorang calon kepala desa yang bertarung dalam pemilihan kepala desa harus menyiapkan cost demokrasi untuk money politik mencapai  1 (satu) milyar rupiah, sungguh harga yang fantastis yang harus dikorbankan untuk menjadi kepala desa. Ini yang penulis amati pada PILKADES 2008 silam.
baca juga  Demokrasi Ala Wong Ndeso

Pada PILKADES Desa Poncoharjo yang akan datang sepertinya akan berubah dan memang seharusnya sudah berubah, berubah cara pandang dalam pemilihan. Ketika pemilihan sebelumnya hanya yang berduit saja yang bisa calon kepala desa meningngat ongkos money politiknya yang sangat tinggi seperti yang penulis sebutkan diatas dengan harapan kalau jadi atau terpilih menjadi kepala desa mendapat gaji 25 bau (1 Bau lebih kurang 0,75 Ha) sawah selam 6 (enam) tahun, yang jika dikalkkulasikan mampu mengganti ongkos politik yang dikeluarkan.

Namun sebaliknya bagi pihak yang kalah dalam pertarungan PILKADES ini dapat diyakini akan mengalami kerugian besar bahkan bisa sampai kedalam kebangkrutan.

Namun sekarang setelah disyahkannya UU No. 6 Tahun 2014, Permen No. 113 Tahun 2014 maka Permen Dalam Negeri No. 37 Tahun 2007 dicabut, dan dinyatakan tidak berlaku, maka ekstalasi politik mulai berubah, betapa tidak, sistem gaji kepala desa berubah dari bengkok sawah yang besar diganti dengan gaji bulanan yng nilai kursnya jauh lebih rendah dari sistem bayaran bengkok, jika dihitung dengan ongkos politik yang mencapai satu milyar, maka amat sulit untuk bisa mengembalikan modal politik tersebut, hal inilah yang dipikirkan oleh orang yang akan maju menjadi bakal calon (Balon) kepala desa pasalnya mereka para calon tahu betul, mereka akan rugi besar  meski nanti akan ada Dana Desa, yang nilainya mencapai 1 Milyar Rupiah pertahun perdesa, namun dari pihak pemerintah akan ada pendamping desa yang akan membimbing dalam penyususnan RAPBDesa (Rencana Anggaran pendapatan dan Belanja Desa).

Namun demikian pada dasarnya jika kepala Desa ingin melakukan pemalsuan anggaran bisa saja terjadi namun KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) siap menciduknya dan ‘Hotel Prodeo’ (Baca: Penjara) siap menjadi tempat tinggalnya, Dan penulis meyakini akan banyak para kepala desa yang akan masuk kedalamnya karena  terjerat kasus korupsi.

Sisi baiknya ditetapkannya UU no.6 Tahun 2014 itu menjadi angain segar jiwa-jiwa muda yang ingin memajukan desanya untuk maju menjadi kepala desa, karena tidak lagi tidak lagi membutuhkan dana besar untuk menjadi kepala desa.

Jika demikian maka bisa disimpulkan Demokrasi Ala Wong Deso akan mengalami kemajuan yang signifikan, indikatornya adalah, minimnya politik uang, jiwa muda yang berpendidikan tinggi mau maju sebagai kandidat, dan kurangnya cara mistis dalam demokarasi pemilihan desa. Dan akhirnya desa semakin maju dan berdikari insyaallah.


Kamis, 07 Juli 2011



Sejarah Meubel Cuati
Desa Poncoharjo adalah sebuah desa yang secara geografis dikelilingi oleh areal persawahan, hal ini menjadikan persawahan sebagai penunjang utama perekonomian desa, namun demikan tidak semua penduduk desa mempunyai lahan persawahan untuk menunjang perekonomian mereka, hal ini karena system yang pembagian lahan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten pada jaman dulu yang membagkan kepadai seorang laki - laki yang sudah mampu untuk menggarap sawah ditandai dengan telah dikihitannya anak tersebut, akan mendapatkan lahan garapan sebesar 700 m2 atau 1 bahu menurut bahasa setempat.
Demi menunjang perekonomian, seseorang yang tidak mempunyai lahan garapan akan merantau keseluruh daerah terutama daerah-daerah seperti jakarta dan Kalimantan, ini juga yang dilakukan oleh Matrowi, dia pergi ke Jakarta untuk bekerja sebagi tukang meubel di bengkel milik orang Cina, singkat kata meubel orang cina tadi mengalami kebangkrutan akhirnya Matrowi bersama-teman-temannya membuat bengkel sendiri,
Pada akhirnya bengkel meubel yang didirikan Matrowi bersama teman-temannya berkembang maju serta mengajak anak-anak desanya untuk menjadi anak buahnya. Akhirnya setelah berkambang semua yang atdinya bergabung menjadi satu sekarang berdiri sendiri-sendiri untuk membuat bengkel meubel masing-masing.
Demikanlah akhirnya bengkel meubel Jepara asal Desa Poncoharjo Bonag Demak sejkarang ada dimana-mana diseluruh Indonesa hasil dari perjuangan H Matrowi.
Untuk itulah sepatutnya pemerintah Desa Poncoharjo Bonang Demak memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada H Matrowi sebagi orang yang berpengaruh terhadap keberadaan Meubel untuk meningkatkan perekonomian Desa.
Wassalam.

Jumat, 26 Februari 2010

jarak rumah dengan makah

Jarak Rumahku dengan ka'bah di kota Mekah adalah 8338 Km pas...sungguh jarah yang indah....betapa tidak di Ma'kahlah pusat Agama Islam namun Allah membukakan kami tuk mengikuti Agama Nabi Muhammad ( Salam Sejahtera Bagi Baginda Selamanya) sedangkan jarak ke Madinah Al Munawaaraoh adalah 8444 Km.