DEMOKRASI ala WONG DESO
OLEH: Zaini Addimawy
(Penulis adalah penduduk setempat)
Pada Bulan November 2008 tahun lalu Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak Jawa Tengah mengadakan hajatan demokrasi untuk memilih kepala Desa Poncoharjo Periode 2008-2014. Demokrasi ala “wong deso” ini memang unik, Betapa tidak demokrasi yang satu ini aneh tetapi memang nyata. Dalam pemilian Kepala Desa ini diwarnai dengan dunia mistis, serta membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk ukuran demokrasi ala Wong Deso.
Untuk pertama kalinya pemilihan kepala Desa dipilih secara mencoblos gambar kandidat Kepala Desa yang sebelumnya mencoblos gambar simbol yang ditentukan pemerintah kabupaten seperti gambar padi, jagung, Singkong dan lain-lain.
Dunia mistis mengawal proses demokrasi sebagai contoh untuk menghindari serangan mistis dari pihak lawan kandidat mengganti namanya dengan nama orang lain yang tentunya dirahasiakan agar terhindar dari serangan ilmu hitam. Tidak hanya itu pihak kandidat yang lain rela menaburkan bunga, telur ke semua sudut Desa untuk mengalahkan pihak lawan, bukan hanya itu seorang paranormal desa yang kondangpun diikutkan untuk menarik “Wahyu keprabon” dengan menggunakan minyak yang mahal walau akhirnya dibubarkan oleh “GAM” sebutan bagi para preman yang memang memihak kepada Kandidat I. Memang para GAM ini meminta uang kepada Kandidat I (penulis rahasiakan identitas para kandidat ) dengan nilai yang lumayan besar diatas 10 juta rupiah, dan memang GAM inilah yang selalu mengawal kegiatan mistis bagi pihak B (sebutan penulis untuk kandidat II)yaitu yang membuang bunga, telor, dan benda-benda mistis kiriman dari kandidat II ke sungai. Selain itu ada cerita lain ada yang disebut Kyai Desa itu yang meminta uang senilai Jutaan Rupiah untuk memenangkan kandidat I dengan diberi cara yaitu pada malam pada tengah malam sebelum hari H pelaksanaan PILKADES disuruh mengambil tanah di rumah sementara kandidiat II, namun pengajuan itu ditolak oleh Kandidiat I, selain itu ada lagi kisah mistis yang dilakukan para kandidat, misalnya kandidat II membuat rute memutar dari arah paling timur Desa bahkan anehnya rela melewati sungai berlumpur bahkan tempat pembuangan tinja demi menuju lokasi pemilihan Desa yang kebetulan dilaksanakan di halaman Madrasah Desa Poncoharjo yang letaknya di sebelah barat desa tidak mudah bagi K II (Kandidat II) untuk bisa melewati jalur yang dilewatinya karenya tentunya pihak pendukung K I (kandidat I ) pasti akan menghalanginya. Selain itu ada juga kisah yang lain yaitu rumah K I selalu dijaga dari malam, siang sampai malam lagi untuk menjaga hal mistis yang menyelimuti PILKADES ini.
Selain itu biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit bagi para kandidat setidaknya harus mengeluarkan uang sedikitnya 800 Juta rupiah jumlah yang fantastik untuk pemilihan kepala Desa yang hanya enam tahun ini dengan gaji dari “Bengkok Desa” yang berjumlah 25 bau, bila dihitung dari pengeluarannya ini memungkinkan kepala Desa terpilih untuk melakukan korupsi besar-besaran untuk mengembalikan uang yang sudah tergadaikan dengan “tahta” kepala Desa yang sesaat serta memungkinkan pemerintahan yang tidak jujur dan tidak tanggung jawab.
Dalam proses PILKADES ini unsur “Money Politik” sangatlah mendominasi betapa tidak dari sejumlah kepala rumah tangga ada yang mengaku mendapatkan 750 ribu yang merupakan “Sumbangan” dari kedua belah pihak. Dalam proses pemilihannya juga unik setelah pemilih keluar dari bilik suara sebelum keluar dari pintu gerbang pemungutan suara sudah diberikan amplop dari panitia penyelenggara yang berisi uang dengan jumlah 30 ribu yang merupakan penggabungan dari K I dan K II.
Suasana berbeda tampak jelas ketika pemilihan Kepala Daerah PILKADA Jateng penduduk setempat apatis dengan pemilihan dalih mereka sederhana yakni uang mereka mengaku tidak mau mencoblos kalau tidak diberi uang. Ini terbukti pada pemilihan kepal Desa ini suasana penuh para pemilih sebabnya sederhana mereka telah diberi uang oleh para kandidat yang jika dikumpulkan mencapai 750 ribu. Dasar demokrasi ala wong deso....






0 comments:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda disini