MY BABY STORY
Perjalanan seseorang dengan seseo
rang yang lain tidaklah sama, tentunya hal tersebut berlaku bagi kelahiran anakku yang tersayang.
Malam itu malam jum’at sekitar pukul 3 pagi istriku tersayang mengalami mules-mules pertanda adanya kontraksi dari bayi yang ada dalam kandungan untuk menuju ujung ‘pelawangan’ rahim istriku. Namun hal itu tidaklah berjalan terus menerus namun perlahan-lahan menuju persalinan yang sebenarnya.
Esok harinya sekitar jam delapan pagi proses persalinan mulai menunjukkan pertanda kemajuan hal ini terbukti dari keluarnya semacam cairan kental dari rahim istriku, namun demikian hal ini tidaklah berjalan lama berhenti begitu saja.
Dua jam kemudian...
Proses persalinan yang panjang menambah rasa sakit ketika mengalami pembukaan pada rahim istriku hampir pasti dibarengi dengan jeritan memilukan. Pertanda itu kembali muncul, cairan yang kedua kembali keluar dari rahim istriku namun disertai dengan keadan yang payah, dengan menangis kesakitan istriku menahan perih yang menyertai proses persalinan.
Sore itu sekitar jam 5.30, istriku sudah tidak kuat lagi untuk menahan sakit yang membelenggunya akhirnya, kami membawanya ke Rumah Bersalin yang menjadi tempat periksa kandungan istriku selama ini, akhirnya bidan memeriksa kandungannya, namun setelah diperiksa akhirnya istriku hanya pasrah menunggu keberlanjutan pembukaan rahimnya, karena sejak kedatangan istriku di rumah bersalin itu baru pembukaan 3-4, sehingga masih menunggu dengan jangka waktu yang cukup lama.
Dalam proses perkembangan pembukaan itu praktis tangisan pilu mengiringi, seperti jeritan kesakitan, memukul suami memukul ke dinding kamar dan sebagainya. menurut perkirakan bidan tersebut lahir jam 10 malam.
Jam sepuluh malam waktu yang dinantikan untuk kelahiran anakku sudah tiba, namun orok yang di dalam tak nampak mau keluar, tenaga istriku sudah mulai terkuras karena berulang kali harus mengeden mendorong anakku keluar.
Ditengah kegalaun hati dengan berunding terlebih dahulu dengan anggota keluarga akhirnya kami sepakat untuk membawa istriku ke Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Di tengah perjalan menuju Rumah Sakit istriku terus menjerit kesakaitan akhirnya sekitar pukul 1.10 dini hari kami beserta istriku tiba di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Proses adminstrasi selesai akhirnya istriku di bawa ke ruang persalinan lantai bawah. Kamipun disuruh keluar oleh petugas. Dengan perasaan was-was kami menunggu sedangkan saya ikut ke dalam menemani istriku yang masih terus menjerit kesakitan. Akahirnya bidan memberikan suntikan yang menurut istriku adalah untuk mengeluarkan isi perut berupa makanan, betul setelah beberapa detik makanan yang sore itu dimakan keluar semua.
Sambil menunggu dokter, istriku terus berjuang melawan rasa sakit. Sedangkan aku begitu setia menemani istriku yang berjuang melawan maut.
Sejam kemudian tiba dokter yang belakangan kami ketahui bernama Dr. Gunawan Sp. OG yang merupakan dokter sepesial bedah yang akan mengoperasai cesar istriku
Hampir pukul dua sudah ketika sang dokter memberitahukan kami untuk berdo’a atas keselamatan istriku dalam menjalani operasi cesar itu. Kamipun dengan khusu’ menengadahkan tangan kami untuk keselamatan istriku, degan sedikit meneteskan air mata yang sejak tadi sulit terbendung kami berdoa.
Akhirnya sabtu jam 02.10 pagi anakku lahir. Seorang anak laki-laki ynag tampan dengan berat 2.8 kilo serta panjang 47 centimeter yang belakangan kami namakan dia dengan MUHAMMAD HUSNUZEN EL MUBARAK (محمد حسن الزين المبارك).

Namun sejak kelahirannya istriku baru sekali bertemu dengannya karena berbeda ruang namun keesokan harinya baru kami berdua bertemu dengan anakku yang masih merah bersegel dilengannya menunjukkan tanda anak kami.
Lima hari lamanya kami menghabiskan waktu di rumah sakit www.rsisultanagung.co.id begitu lama seakan waktu berjalan. Di hari pertama pasca kelahiran istriku masih memakai infuse serta kantong urine di samping tempat tidurnya dengan posisi masih tidur terlentang serta puasa bicara selama 2 jam lamanya baru esok harinya istriku bisa miring ke kiri dan kanan dengan infuse serta kantong urin masih terpasang. Hari ketiga infuse serta kantong urin sudah mulai dicopot serta diharuskan istriku untuk duduk kemudian berjalan begitu seterusnya sampai memungkankan untuk berjalan normal seperti biasanya. Disamping itu makanan yang dimakan juga diatur sedemikian rupa misalnya hari pertama dan kedua pasca operasi masih makan bubur dengan lauk yang dihaluskan hari berikutnya menjadi nasi lembek dan akhirnya makan nasi seperti biasa dangan lauk biasa. Menu makanan yang disediakan harus dimakan semua agar luka bekas operasi cepat sembuh.
Demikian kisah perjalanan lahirnya anakku tersayang semoga bermanfaat dengan berbagi pengalaman.
Wassalam…






0 comments:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda disini