Senin, 12 September 2016

Akhir sang preman kampung

Skenario Membunuh Warsito
(cerpen)
Sinar matahari menampakkan keangkuhannnya menyinari dunia penuh keceriahan, suara monoton terdengar terus menerus bersamaan cangkul menyentuh tanah gembur, Surawan pria paruh baya ini dengan tekun bergelut dengan sawah garapan hasil pembelian dari saudagar kaya pemenang tender lelang sawah BKM istilah untuk sawah milik masjid kabupaten itu. Ketekunannnya dalam belajar mencari karunia sudah kawentar di kalangan masyarakat Desa Pancajaya itu.
Setiap pagi buta Surawan pergi kesawah dengan tekunnya mulai dari tanam bahkan sampai pemanenan dijalani Surawan dengan penuh semangat agar kehidupan ekonominya berjalan dengan baik dan bertambah kemapanan ekonominya.
Seperti biasa pagi itu ia pergi kesawah namun kali ini dengan perasaaan yang penuh gembira karena melihat sawahnya yang sudah menguning dengan baik itu pertanda masa panen akan segera tiba dan bisa dijual
Untuk keperluan membangun rumahnya yang sudah mulai reot dimakan usia, terlebih rumah kayu ini sudah tidak layak huni, besar hatinya agar panen nanti melimpah dengan harga tinggiagar hasil panennya bisa digunakan untuk bangun rumahnya.
Alangkah bahagia hatinya melihat sawahnya yang terlihat bagus, lama ia memperhatikan sawah yang siap penen itu, tiba- tiba seorang yang memakai topi koboi itu menyapanya, "Sur"...sapaan akrap mampir di telinganya suara yang sudah ia kenal, ya Warsito si tengkulak gabah itu memanggilnya, begitu kenalnya ia karena sering bertemu di sawah yang memang mempunyai sawah yang bersebelahan dengannya,"Ya..."Sahutnya dengan masih menatap sawahnya tanpa menoleh panggilan temennya itu.
“Dijual berapa...?” tanya Warsito sambil duduk disebelah Surawan..."Uuw Ahhh..."asap tebal keluar dari mulut Warsito dengan sigaretnya yang tampak basah karena hisapan mulutnya...”Berani berapa...?” Surawan menjawab tawaran Warsito..”Lima belas juta ya?” “Tambah lima ratus” balas Surawan minta tambahan harga “OK Deal limabelas Juta lima ratus, ini DP nya satu juta dulu ya...” ,”OK” balas Surawan yang kini sudah benar benar bicara serius dengan berhadap hadapan dengan Warsito itu,
Transaksi sederhana yang oleh masyarakat sekitar di sebut 'Nebas Pari' ini berjalan meski tanpa saksi serta surat bukti transaksi, transaksi jual beli utang piutang ini berjalan dan sudah biasa dilakukan di Desa Pancajaya itu. “Kapan Dipanennya?” tanya Surawan dengan maksud jika sudah dipotong(dipanen) berarti kekurangan dari jual sawah akan segera dibayarkan oleh warsito, "Ya paling seminggu lagi nanti kalau udah terjual kekurangnnya akan aku kasihkan aku antar ke rumah kamu, kamu jangan kuatir” pinta Warsito meyakinkan, “Baik, bener ya jangan lama-lama motongnya awas musim hujan nanti ambruk saya yang rugi” balas Surawan mengharap warsito segera memanen sawahnya agar secepatnya dapat kekurangan uangnya yang dari warsito itu.
***
Sore itu menjelang magrib tiba,tampak langit mulai gelap gulita karena mendung awan pekat kumulus menutup langit Desa Pancajaya itu, suara angin terdengar huss... menerpa pepohonan semakin lama semakin kencang pertanda akan segera hujan, gerimis mulai datang membasahi seluruh desa yang diikuti suara petir bersahutan dan hujan deraspun mulai membasahi desa, suara speker adzan magribpun tidak mampu mengalahkan suara hujan yang teramat deras itu, pohon-pohon seperti hampir ambruk terkena angin disertai hujan lebat, penduduk desa seperti ogah keluar rumah,sebentar kemudian lampu PLN-pun ikut padam praktis suara hujan dan petir memenuhi ruang dan waktu di desa PancaJaya itu. Dan sebentar kemudian genangan air memenuhi halamansetiap rumah dan jalan jalan desa bahkan sawah sawah.
***
Kegelisahan mulai muncul di benak surawan memikirkan panen sawah yang sudah dijualnya kepada Warsito tadi, “Bagaimana keadaan sawahku jika hujan seperti ini” pikirnya ketika lamunanya semakin mendalam tiba-tiba gelegaar...suara gemuruh itu seperti memecahkan genderang telinganya...sekaligus menyadarkan ia bhwa waktu sholat telah tiba. Menjelang malam kantuk belum bisa menguasainya lantaran masih memikirkan sawahnya yang terkena hujan lebat itu. Namun kemudian matanya sudah mulai gelap setelah kantuk benar-benar menguasai dirinya.
***
Pagi masih tampak samar –samar mataharipun masih enggan menampakkna wajahnya, namun masyarakat desa sudah begitu ramai, ya tentu mereka masing-masing khawatir dengan padi mereka yang masih disawah itu, pagi buta itu mereka penduduk desa tidak ketinggalan Surawan juga pergi kesawah masing-masing untuk melihat hasil panenya yang terkena hujan lebat semalam.

Perjalanan tergesa-gesa ia lalui melewati pematang sawah sambil memperhatikan kiri kanan tarikan nafas panjang menyertai perjalanannya, ya,sepanjang jalan pematang sawah yang ia lalui,tampak batang-batang padi sudah tidak berdiri lagi, banyak diantara padi-padi itu tidak beraturan ada yang ambruk kira kanan bahkan ambruk semua, semakin gelisah ia semakin khawatir muncul dalam dirinya, “Bagaimana nasib sawahku” pikirnya.
Dari kejauhan tampak dia memperhatikan sawahnya badannya gemetaran melihat dari kejauhan hasil sawahnya,, air tampak memenuhi petak sawah miliknya, "Aduh"...keluhnya...ya..sawahnya ambruk semua tidak beraturan, hatinya menjadi kecut.dengan hati yang berat ia kembali pulang kerumahnya.
***
Hari berganti hari Surawan semakin gelisah karena padinya belum dipanen oleh Warsito, “Bagaimana nanti jika digagalkan transaksinya secara sepihak oleh warsito?” pikirnya.
Hari berganti hari, kegelisahan surawan semakin menjadi tatkala hari pemotongan padi lewat begitu saji namun padi surawan masih belum di panen sedang keadaan padi semakin rusak karena ambruk serta hujan sehingga pohon padinya rusak membusuk bahkan sampai tumbuh benih hal yang sangat memilukan
Hari itu bagai petir menyambar,Warsito secara sepihak membatalkan transaksi nebas sawah yang sudah mereka sepakati, Hancur luluh hati surawan angan angannya untuk bisa mempergunakan hasil panennya untuk membangaun rumah sirna sudah, “Ini gara-gara Warsito, Kurang ajar dia” Pikirnya.
Kebencian Surawan semakin mendalam tatkala Kamuri preman kampung tangan kanan Warsito meminta uang DP transaksi awal nebas sawah yang sudah dibayarkan warsito, dengan berat hati Surawan memberikan uang Dp satu juta sebelumnya, meski dengan semakin bertambah kebencian pada Warsito.
Hari-hari kiniSurawan tidak bisa tidur pikirannya melayang menandakan kebencian pada Warsito, sesaat kemudian Hp jadulnya berdering..”Kring..”“Ah Si Asep” Nampak nama Asep timbul di HP-nya tanda memanggil..”Ada apa tiba-tiba temen lama waktu di bandung menelpon” pikirnya..”Perbincangan panjang lebar terjadi setelah menyapa dan saling menanya kabar masing-masing, akhirnya Surawan curhat atas apa yang sedang menimpanya, dengan tanggap asep yang asli Cipading dengan tanggap siap membantu, ya bukan main-main bantuannya, dia siap menyiapkan preman serta senjata api rakitannya untuk menghabisi Warsito, Surawan yang memendam kebencian pada Warsito awalnya menolak namun ketika Asep mencoba meyakinkannya dengan sekenario yang rapi pembunuhan terhadap Warsito akan berjalan lancar.
Benar saja, kesepakatan terjadi Asep siap membantu Surawan menghabisi Warsito dengan skenario yang rapi.
Sore itu menjadi waktu naas bagi preman kampung Warsito, pria bertopi koboi itu sedang melihat peternakan burung di luar kampung, tiba tiba “Dor.. suara letusan senjata api dan sesaat kemudian pipi kanan warsito penuh dengan darah, ya tepat di kepala kanan warsito, seketika itu pula preman kampung yang sok jagoan itupun tumbang oleh preman sewaan Asep dengan senjata api rakitannya. Suasana yang sepi kala itu menjadi semakin mudah bagi si Gemblung preman kelas kakap yang menghabisi Warsito dengan mudah menyeret jasad tak bernyawa itu untuk dibuang ke Kalijajar sekitar kejadian, dan dengan memberikan bandul batu besar jasad naas itu akhirnya tenggelam di dasar sungai, bahkan jasadnya sampai tidak ditemukan barangkali sudah habis dimakan hewan sungai itu.
***
Sementara itu sejak kematian orang tuanya keluarga Warsito menjadi hancur lebur diberitakan anak laki-lakinya Buwas menjadi pengemis di pasar dan terminal, serta ibunya menjadi gembong germo di kota samara.
selesai
***





Minggu, 23 Agustus 2015

Demokrasi Ala Wong Ndeso 2


DEMOKRASI ALA WONG DESO II
(Oleh:Zaini Addimawy)

Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak kini sudah PlT. (Pelaksana Tugas) dalam pemerintahannya yang sebelumnya dipimpin oleh kepala desa yang lama yaitu Haji Sutrisno. Hal ini tentu menjadikan warga mulai menerka-nerka siapa kelak yang maju sebagai kepala desa.



Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak memang unik, unik karena beberapa hal terutama demokrasi dalam pemilihan kepala desa, seperti diketahui penulis, seorang calon kandidat kepala desa harus mengganti namanya secara mistis, dengan maksud supaya terhindar dari serangan yang bersifat mistis, misalnya santet atau teluh.

Selain merubah nama seorang calon kepala desa yang bertarung dalam pemilihan kepala desa harus menyiapkan cost demokrasi untuk money politik mencapai  1 (satu) milyar rupiah, sungguh harga yang fantastis yang harus dikorbankan untuk menjadi kepala desa. Ini yang penulis amati pada PILKADES 2008 silam.
baca juga  Demokrasi Ala Wong Ndeso

Pada PILKADES Desa Poncoharjo yang akan datang sepertinya akan berubah dan memang seharusnya sudah berubah, berubah cara pandang dalam pemilihan. Ketika pemilihan sebelumnya hanya yang berduit saja yang bisa calon kepala desa meningngat ongkos money politiknya yang sangat tinggi seperti yang penulis sebutkan diatas dengan harapan kalau jadi atau terpilih menjadi kepala desa mendapat gaji 25 bau (1 Bau lebih kurang 0,75 Ha) sawah selam 6 (enam) tahun, yang jika dikalkkulasikan mampu mengganti ongkos politik yang dikeluarkan.

Namun sebaliknya bagi pihak yang kalah dalam pertarungan PILKADES ini dapat diyakini akan mengalami kerugian besar bahkan bisa sampai kedalam kebangkrutan.

Namun sekarang setelah disyahkannya UU No. 6 Tahun 2014, Permen No. 113 Tahun 2014 maka Permen Dalam Negeri No. 37 Tahun 2007 dicabut, dan dinyatakan tidak berlaku, maka ekstalasi politik mulai berubah, betapa tidak, sistem gaji kepala desa berubah dari bengkok sawah yang besar diganti dengan gaji bulanan yng nilai kursnya jauh lebih rendah dari sistem bayaran bengkok, jika dihitung dengan ongkos politik yang mencapai satu milyar, maka amat sulit untuk bisa mengembalikan modal politik tersebut, hal inilah yang dipikirkan oleh orang yang akan maju menjadi bakal calon (Balon) kepala desa pasalnya mereka para calon tahu betul, mereka akan rugi besar  meski nanti akan ada Dana Desa, yang nilainya mencapai 1 Milyar Rupiah pertahun perdesa, namun dari pihak pemerintah akan ada pendamping desa yang akan membimbing dalam penyususnan RAPBDesa (Rencana Anggaran pendapatan dan Belanja Desa).

Namun demikian pada dasarnya jika kepala Desa ingin melakukan pemalsuan anggaran bisa saja terjadi namun KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) siap menciduknya dan ‘Hotel Prodeo’ (Baca: Penjara) siap menjadi tempat tinggalnya, Dan penulis meyakini akan banyak para kepala desa yang akan masuk kedalamnya karena  terjerat kasus korupsi.

Sisi baiknya ditetapkannya UU no.6 Tahun 2014 itu menjadi angain segar jiwa-jiwa muda yang ingin memajukan desanya untuk maju menjadi kepala desa, karena tidak lagi tidak lagi membutuhkan dana besar untuk menjadi kepala desa.

Jika demikian maka bisa disimpulkan Demokrasi Ala Wong Deso akan mengalami kemajuan yang signifikan, indikatornya adalah, minimnya politik uang, jiwa muda yang berpendidikan tinggi mau maju sebagai kandidat, dan kurangnya cara mistis dalam demokarasi pemilihan desa. Dan akhirnya desa semakin maju dan berdikari insyaallah.


Rabu, 19 Agustus 2015

Kisah Semarangan: Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru

Kisah Semarangan: Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru: "Rasa Jamu Jun itu kompilasi antara segar, manis, legit, hangat dan pedas. Enak dikonsumsi ketika musim hujan. Apalagi ketika tubuh k...

Rabu, 12 Juni 2013

CINTA MEMANG BUTA

SEKILAS TENTANG CINTA

Cinta sungguh kata yang indah untuk diucapkan tentu juga kata yang “dianggap indah" bagi yang dimabuk cinta, 
apa itu cinta? Para ahli tidak mampu mendefinisikan arti cinta yang sesungguhnya yang mampu diterima semua orang meski bergelar doktor sekalipun.
Cinta begitu sulit untuk dijelaskan bahkan terkadang seseorang mencari sendiri definisi cinta di luar. Tentu jika ini bagi anak sangat berbahaya karena anak cenderung mencari cinta hanya dari kulit luarnya saja...
Hal yang sama terjadi bagi kisah berikut ini
Adalah seorang wanita belia yang masih sekolah di tingkat SLTA panggil aja namanya SINTA, penampilan yang kalem seperti membius para pemua untuk mendekatinya panggil saja salah satunya bernama Sandy temen sekolahnya di Sekolah SLTAnya.
Saking intensifnya Sandy melakukan pendekatan terhadaap SINTA, akhirnya Sandy diterimanya dengan senang hati yang memang SINTA sebenarnya juga mencintainya.
Akhirnya mereka berdua menjadi sering bersama bahkan kini menjadi lebih dekat, hingga pada suatu hari setelah pulang sekolah SINTA diajak ke rumah Sandy. Suatu kebetulan ketika itu orang tua Sandy sedang pergi, rumah itupun kosong hanya mereka berdua, atas nama cinta kata mereka, mereka akhirnya tenggelam kedalam nafsu sesaat.
Cinta mereka semakin masuk kedalam lingkaran syetan tak berakhir meski orang tua SINTA tidak mengetahui perihal kelakuan anaknya yang dia kira hanya biasa saja.
Pada suatu hari orang tua SINTA memberitahukan kepadanya akan ada orang tua dari seorang laki-laki yang akan melamar kepadanya dan SINTA harus menerima pinangannya.
Tanpa bisa menolak karena takut kepada ayahnya SINTA terdiam saja campur baur perasaaan yang ada pada dirinya, “Aku tidak mau” pikirnya namun kata itu hanya terpendam kuat dalam hatinya
Akhrinya hari yang ditentukan itupun tiba ya hari pernikahan itupun berlangsung dengan hikmat, namun hatinya semakin bercampur aduk jadi satu, bagaimana nanti jika suaminya yang tidak dia cintai itu tahu keadaan dirinya yang sudah tidak suci lagi, apa dia mau menerimanya,
Malam pertama itupun tiba, kecemasannya semakin menjadi saat ‘pertempuran’ itu terjadi, Sinta seakan enggan menyerahkan tubuhnya, namun dengan permintaan yang mengiba akhirnya malam pertama bagi Sandy pun terjadi namun sungguh kagetnya dia ketika tahu bahwa Wanita yang dinikahinya itu telah tidak suci lagi, sungguh pukulan berat baginya namun dia berusaha menerima namun dia tidak mampu meyembunyikan amarahnya, dengan memberanikaan diri dia bertanya tentang keadaaan istrinya itu, namun SINTA tidak segera menjawab namun justru air mata mengalir deras dari pipinya....
Setelah tahu Sandy semakin gencar bertanya siapa yang telah ‘mendahuluinya’ namun jawabannya sama hanya air mata, merasa kasihan akhirnya Sandy tidak melanjutkan pertanyaanya.
Hari hari berikutnya Sandy mencoba menerima keadaaan istrinya yang sudah tidak suci lagi. Diapun berangkat kerja ke Malaysia tempat kerjanya ketika dulu istrinya pun ditinggal di kampung sendiri.
Ketika di rumah sendiri inilah SINTA kembali berhubungan dengan Sandy lewat Facebook bahkan SINTA kembali menemui Sandy dan itu berulang kali tanpa sepengetahuan suaminya yang jauh di mata.
Suatu hari hal ini diketahui oleh ayahnya dan juga lambat laun diketahui oleh Sandy suami sahnya, untuk itulah ayahnya  menganjurkan mereka untuk berangkat bersama ke Malaysia untuk bekerja bersama.
Persiapan perjalan jauhpun mereka persiapan mulai dari pakaian bahkan peralatan rumah tangga, namun hal ini menjadi cara bagi SINTA untuk menyusun rencana supanya bisa pergi dari rumah menuju kekasihnya yang dulu.
Setelah menempuh waktu perjalanan mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Dan esok harinya sang suami bekerja ke tempat kerjanya.
Keget bukan kepalang ketika Sandy pulang kerja dia mencari cari istrinya yang tidak ada di kontrakan dilihatnya jemuran masih berada di luar begitu terus mencari istrinya namun hanya nihil belaka.
Setelah mengerahkan semua temen temennya dan juga memberitahukan kepada keluarganya perihal yang terjadi. Namun akhirnya dia menyimpulkan bahwa istrinya itu kabur ke pacarnya dulu.
Setelah diketahui keberadaan istrinya, akhirnya Sandy mengajukaan gugataan cerai kepada istrinya.
Itulah sekelumit kisah cinta, yang kadang tidak bsa dicerna dengan akal sehat, bagaimana karena cinta seseorang kehilangaan akal warasnya mengikuti nafsu belaka yang pada akhirnya penyesalannya seperti tiada berakhir.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini

Rabu, 03 April 2013

Kampung tanpa rokok


MENGGAGAS KAMPUNG TANPA ASAP ROKOK
Kesehatan adalah anugerah terindah Tuhan, dengan berbadan sehat manusia bisa beraktifitas mulai dari bekerja mancari nafkah untuk keluarga sampai dengan beribadah kepada Tuhan Allah Subhanahu wata’ala karena kesempurnaan nikmat adalah berfungsinya semua organ-organ tubuh kita untuk digunakan dalam beribadah kepada Allah Swt.
Semua gambar diambil dari http://tinyurl.com/cxjcb9o
Dalam kehidupan nyata perilaku masyarakat tentunya berbeda antara satu orang dengan orang lainnya tentu ini dipengaruhi oleh hal-hal yang melatarbelakanginya, antara lain budaya, agama, ekonomi serta keluasan pengetahuannya.
Dalam kehidupan bermasyarakat seharusnya seseorang mampu menumbuhkembangkan prinsip toleransi  yang tidak hanya toleransi sosial semata seperti sopan dengan tetangga, tidak mengunjingkan kejelekannya, menjenguk saudara yang sakit, dan sebagainya, tapi yang juga penting bahkan sangat penting adalah orang lain terbebas dari penyakit yang ditimbulkan oleh diri kita, kita contohkan disini adalah kebiasaan merokok kita yang akan merugikan kesehatan tidak hanya diri kita sebagai perokok aktif namun juga akan merugikan terhadap orang lain di sekitar kita, terlebih anak-anak bahkan balita yang masih merah.
Di Desa Poncoharjo banyak sekali kegiatan (ritual-ritual) keagamaan misalnya; Tahlilan, berjanjenan, manaqiban, empat bulanan, tujuh bulanan, sampai dengan upacara kematian dan kelahiran , untuk yang terakhir ini kita beri perhatian lebih, betapa tidak pada saat perayaan upacara kelahiran anak tentu para bapak tamu undangan yang hampir seluruhnya perokok itu akan ‘menikmati’ racun rokok bahkan ruangan sampai penuh sesak serta engap dengan asap rokok, bayangkan bagaimana dengan anak bayi yang baru lahir itu.
Sebagai pengetahuan berikut kita cantumkan keterangan-keterangan para ahli tentang bahaya asap rokok di klik link ini http://tinyurl.com/bvouoeh

Jelas sudah bagi kita apa kerugian yang ditimbulkan dari aktifitas kita menghisap (bukan mengkonsumsi) rokok terlebih bagi orang lain khususnya bayi.
Tubuh Perokok
Bagi yang sadar tentang bahayanya kemudian terpikir olehnya bagaimana caranya agar kampung ini menjadi kampung yang asri, sejuk jauh dari racun asap rokok, tentu jawabannya adalah mulai dari diri sendiri "ابدأ بنفسك"  setelah orang mampu menjadi contoh untuk tidak merokok bagi adik atau juga kepada anak-anaknya tentu ini bisa ditiru oleh adik atau juga oleh anak-anaknya itu, selain itu ingatlah selalu kalimat ini “Smoking too much will kill you” “merokok dapat membunuhmu” begitu artinya.
Kalau kita bisa mencontoh daerah ini http://tinyurl.com/cdsy2n8 ini adalah kampung percontohan untuk desa tanpa asap rokok sungguh asri.
Selain solusi dari diri sendiri, bergeser kita mencoba mencari solusi yang bisa atau berpengaruh untuk khalayak umum khusunya warga kampung, misalnya ketika kita mengadakan hajatan di rumah kita, sebaiknya kita tidak menyuguhi rokok, paling tidak diawal datang, diganti dengan memasukkan rokok di ‘berkat’ tamu undangan yang akan diberikan kepada tamu undangan saat pulangnya.
Untuk solusi dengan jangkauan yang lebih luas, tentu ini harus dikembalikan kepada pemerintah desa dan jajarannya untuk membuat kebijakan-kebijakan sebagai anjuran kepada masyarakat untuk tidak mengkonsumsi rokok di tempat umum, atau berikan contoh untuk tidak merokok di tempat umum sehingga dicontoh oleh masyarakat umum dan generasi berikutnya Insyaallah. Untuk teknis yang lain bisa kita mencontoh dari daerah percontohan yang telah kita sebut diatas.
Akhirnya kita berharap semoga perokok aktif akan semakin berkurang sehingga racun rokok tidak tersebar dan generasi berikutnya adalah generasi yang sehat. Pertanyaannya MUNGKINKAH!!!!! jawabannya ada di tangan anda…


Senin, 21 Januari 2013


TIADA HARI TANPA MENULIS



Siang ini hati mulai galau entah apa yang aku pikirkan..ha..aku tak peduli yang penting aku menulis dan menulis, meski belum terpikirkan apa yang harus aku tulis, ketika aku menonton “The X Factor” di RCTI aku hanya menjadi penonton yang asyik melihat penampilan para peserta, beranjak aku bangkit meski masih menonton acara tivi, aku ambil komputer jinjing yang sejak tadi tersimpan rapi di tas komputer. Masih saja aku berpikir apa yang harus aku tulis....ah itu tak penting, yang penting aku hanya ingin menulis.....jadinya ya ini hasil tulisnnya, meski ga mutu banget tapi aku puas..bisa menulis.....
Sesaat kemudian akupun teringat terhadap pernyataaan ahli yang mengatkan kurang lebih seperti ini, “Menulislah karena hanya itu yang membuat dunia tahu apa yang kamu pikirkan” memang menulis sangatlah mudah, mudah karena tidak perlu teori yang ‘jelimet’ serta pengetahuan yang berteletele, menulis hanya perlu menulis tak perlu berpikir apa yang harus ditulis pokoknya tulis dan tulis.......
Sesaat kemudian hati mulai teriris sedih membelenggu jiwa ini, ketika acara televisi berganti dengan berita banjir menggenangi Ibu Kota....duh miris......semoga cepat surut tu banjir...dan jangan lagi ada korban..pikirku....jari jemariku masih menari indah terdengar suara bunyi klik-klik karena berbenturan dengaan keyboard komputer .
Ah apa yang mau aku tulis ya..apa Bandung Love Story aja ya....ah itukan udah pernah aku tulis...pikirku dalam hati, tapi memang kisah ini begitu melekat denganku karena kisah ini yang mengiringi perjalanan hidupku ketika kuliah dulu...ah sungguh kisah yang menarik.....aku mengurungkan niat untuk menulis Bandung Love stori.....
Atau menulis tentang stress...ya mungkin enak juga klo menulis tentang stress.
Stress...sungguh sesuatu yang baru tentangku...aku adalah orang yang memiliki kepribadian yang berbeda, aku merasa takut kehilangan dengaan orang yang aku cinta...saat itu aku mempunyai pacar dan saat itu kami sedang KKN Di Sumedang kami berbeda kelompok.. bahkan sangat jauh. Aku gelisah memikirkan kekasihku...terlebih aku mendengar bahwa kekasihku menjadi ketua kelompok, aku semakin gelisah....kegelisaahanku yang dalam kemudian berubah menjadi awal stress yang aku alami...kepala seakan berat di bagian belakang....itulah awal stress bagiku....meski pada saat itu pengaruhnya masih kecil....dan juga belum aku sadari...
Kini dia tidak menjadi istriku akupun merelakannya meski aku duluan yang menikah...kini aku berjuang untuk melawan stress yang tersisa dari masa lalu, semoga bisa terbebas dari stres..sekian tentang stres...
Lalu aku mau nulis apa lagi ya...mungkin aku cukupkan dulu terlebih aku harus mengedit tulisan yang tentu masih acak-acakkan.  Jika anda membaca ini mungkin sudah rapi tapi, pastinya awalnya masih acak-acakan bisa hurufnya yang berlebih atau berkurang sehingga susah dibaca (dimengerti) dan juga sudah sore juga aku musti mandi dan baru nanti diposting diblog....
Saya mengajak kepada saudara untuk mengikuti jejak saya untuk menulis menulis dan menulis jangan pedulikan apa tulisannya akan bagus atau tidak yang penting tulis tulis dan tulis....dan bagi yang sudah sering menulis selamat.....anda sudah menulis.....
Terimakasih....dan anda bisa komen di bawah postingan ini.....



Senin, 07 Januari 2013

Alunan sholawat suara emas gus Dur (haul I gus Dur)


Selamat Jalan Gus Dur....Kami akan meneruskan jalan yang kau rintis untuk menjaga selalu Empat Pilar Bangsa....