Selasa, 19 Juni 2018

Pemilihan KPPS 2018


BAU BUSUK PEMILIHAN KPPS

Suatu hari seorang pemuda dengan penuh semangat mengumpulkan berkas -berkas untuk pemilihan KPPS di suatu desa berharap bisa  bergabung untuk sekedar meramaikan kontestasi politik yang penuh gembira namun ternyata niat baik itu mentok di tengah jalan bukan karena persyaratan tidak mencukupi namun karena proses pemilihannya yang tidak akuntabel, berikut ceritanya;
Semburat cahaya kuning muncul di ufuk timur, surya pagi menyapa warga desa Pancajaya dengan cerah ceria. Seorang pemuda dengan percaya diri mengumpulkan berkas yang terdiri dari ijasah sarjana, pas foto, Kopi identitas serta berkas kelengkapan lainnya, menyusul info di papan pengumuman tentang pemilihan KPPS (Kami Para Pecinta Sejati) (jangan protes ini kepanjangan gue aja ga usah dikait2in)
Hari itu surat undangan sampai di tangan sang pemuda yang isinya tentu seleksi wawancara pemilihan KPPS oleh PPS (Para Pecinta Sejati) (jangan protes terserah gue, jangan dikaitkan), setelah dibaca mengertilah sang pemuda untuk hadir pada hari yang tertera di surat undangan tersebut.
Hari itu setelah mandi dan berpakaian rapi sang pemuda datang ke lokasi wawancara di AULA desa Pancajaya tersebut. Setelah mengisi absensi serta mengantri cukup lama tibalah sang pemuda mendapat giliran wawancara dan tepat saat itu pemuda itu diwawancara oleh Sugus yang sebenarnya teman waktu SMA sang pemuda tersebut, setelah ngobrol beberapa saat Sugus akhirnya meminta sang pemuda untuk menulis nama serta tandatangan, setelah itu Sugus hanya ngobrol tanpa menanyakan sama sekali subtansi dari pemilihan bahkan bertanya tentang kondisi kantor sang pemuda, selesai wawancara sang pemudapun pulang ke rumah namun sebelum pulang berpapasan dengan calon yang lain yang datang belakangan. Belakangn orang-orang yang datang terlamabat tadi yang diyakini tidak ikut tes wawancara lolos seleksi.
Sampai hari pengumuman tiba, ternyata nama sang pemuda tidak tercantum di papan pengumuman artinya sang pemuda gagal dalam seleksi, sang pemuda berpikir entah apa yang menyebabkan dia gagal, namun setelah bertanya sana sini akhirnya disimpulkan bahwa nama-nama yang lolos seleksi adalah nama-nama yang merupakan pesanan kepada panitia, memanglah demikian adanya karena berdasarkan apa yang didengar langsung oleh sang pemuda sebelum hari seleksi bahwa nama-nama KPPS sudah ada, sehingga pemanggilan seleksi hanya formalitas saja, itulah bau busuk seleksi KPPS.
Setelah ditilk lebih dalam bahwa yang lolos KPPS ternyata orang orang yang sudah dipilh, bahkan ada kabar bahwa salah satu calon tidak dapat menjawab pertanyaan PPS pun lolos, ada juga yang satu keluarga semuanya lolos dan yang lebih hebat juga teman ngajar PPS Sugus lolos semua sedangkan pemuda dan satu temannya yang guru MI ga diloloskan, dari itu, sang pemuda berniat memberitahukan kepada sang ‘Jendral’ yang merupakan teman PPS Sugus itu agar diberi nasehat, memang ‘Jendral’ itu merupakan jenderalnya sang pemuda, yang lebih mengherankan lagi ada seorang calon yang pendidikan formalnya hanya kejar paket yang hanya datang ketika ujian saja (ini diketahui setelah sang pemuda ngobrol langsung dengan slah satu calon) pun lolos seleksi RUAAARRR BINASA.
Demikian kisah sang pemuda, semoga sang pemuda mengurungkan niatnya untuk GOLPUT PILKADA karena kecewa dengan proses seleksi yang berbau busuk.

Sebagai tambahan, ternyata penyeleksinya adalah penerus gen dari pemimpin desa zaman orde baru yang penulis ingat sangat tidak demokratis, sebagai contoh orangtu penulis dipersulit dalam administrasi, misalnya pernikahan atau jika ada sumbangan selalu tidak dapat, itu dilakukan perangkat desa saat itu karena kakek penulis atau orang tua dari ayah penulis adalah Ansor  dan juga Kiai desa yang dulu berafiliasi pada PPP samapai menyatakan khittah, namun masih dikaitkan dengan partai tertentu utamanya PPP, sebagaimana diketahui partai saat itu cuma ada tiga selain Golkar dan PDI (tanpa Perjuangan).
Terimakasih....


Selasa, 17 Oktober 2017

INDAHNYA DESAKU

INDAHNYA DESAKU

Sang surya mulai memasuki peraduannya, dan selimut malam mulai menyisir setiap penjuru alam fana, terdengar lirih dari kejauhan suara muadzin lewat corong ToA yang menggunakan baterai accu, sebentar kemudian setelah puji-pijian suara yang sama kini berkumandang namun kini ada tambahan  qad qaamatissholah..ya suara qomat berkumandang menandakan waktu shalat magrib akan segera dilaksanakan.

Sementara di ruang tamu yang beralas tanah dengan tikar hasil karya sendiri terbuat dari anyaman daun pandan (tepatnya lingi, sejenis tanaman semak yang biasanya tumbuh di pinggir sungai) itu seorang ibu sedang bertaruh nyawa untuk menyambungkan kehidupan seorang anak adam dari rahim ke alam dunia. Ya malam kliwon tahun 1981 itu menjadi saksi lahirnya seorang anak yang kini tulisanya anda baca.

Dari samping rumah terdengar bacaan yasin secara jamaah atau bersama, ya malam jum'at di langgar (musholla)  dimana diadakan jama'ah yasinan. malam itu kebahagiaan keluarga ini bertambah dengan lahirnya seorang anak ke dunia ini. Dan malam ini mereka  tidur dengan perasaan penuh suka cita.

Semburat cahaya kuning menghiasi ufuk timur. Pagi datang setelah semalam selimut malam munutupi rumah penduduk desa yang hanya disinari cahaya rembulan, dan lampu minyak serta lampu petromak bagi sarana peribadahan, sepertinya kebahagiaan warga penduduk tidak akan pernah dinikmati oleh manusia milenial saat ini yang hanya sibuk dengan gedget masing-masing.

Desa Poncoharjo merupakan desa yang indah dengan hamparan sawah yang luas, kali kanal menyapa warga kampung saat memasuikinya yang terkenal dengan banyaknya ikan yang jenis dan beratnya beraneka ragam dan biasa menjadi destinasai para pemancing di setiap harinya, tidak hanya itu warga kampung yang mencari ikan di situ mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.



Kali kanal (Kali Jajar) biasa warga menyebut menjadi sarana transportasi ke kota, ya dengan adanya kali jajar yang tersambung ke Kracaan atau Pasar Bintoro Demak menjadi jalur transportasi sungai menggunakan perahu, yang pada awalnya menggunakan tenaga manusia (otot) menjadi penggeraknya dengan cara mengikat tali tambang yang kemudian ditarik oleh satu orang menyusuri sungai sepanjang lebih kurang enam kilometer menuju Kota Demak sedang satu orang di belakang kemudi. Perahu itu berisi warga yang menuju ke kota baik untuk belanja atau untuk bekerja ke kota, penulis pun pernah mengalaminya saat berangkat ke pesantren di Jepara namun sudah menggunakan mesin diesel tenaga solar.

Malam kembali menyelimuti kampung Cuwati, sehabis isya’ saat bulan purnama menyinari kampung, anak-anak bergembira dengan melakukan kegiatan bermain bersama seperti main petak umpet, gobak sodor, engklek, uthik lompat karet bahkan membelanan. Begitu ceria mereka, tanah lapang madrasah diniyah menjadi tempat favorit mereka terlebih di tanah lapang itu masih ada bangunan tua bekas sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang sudah tidak terpakai.

Asal Mula Jumputan
Jumputan berasal dari bahasa jawa yang artinya sejumput atau sejumlah kecil istilah ini sekarang begitu popular (terkenal) bersamaan dengan diberlakukannya oleh panitia pembangunan masjid jami’ Baitul Muttaqin (penulis berharap namanya diubah dengan baiturrahman, baitussalam atau yang lain yang diidhofikan dengan nama Allah atau Asma’ul Husna lainnya) untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya minimal Rp.2000 setiap harinya yang ditaruh di gelas mineral yang disediakan panitia pembangunan yang ada di tiap rumah penduduk desa selama pembangunan berlangsung.

Pada jaman dulu seingat penulis bahwa dulu baik untuk pembangunan masjid musholla atau untuk operasional lembaga keagamaan bahkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat selalu menggunakan ‘jumputan’ namun dengan bantuk yang berbeda, lalu apa perbedaan jumputan pada jaman dulu dengan sekarang…?

Jumputan pada jaman dahulu medianya menggunakan potongan bambu (Bukan bekas gelas mineral) yang dipotong dengan ukuran tertentu dekat dengan ros bambu diberi pegangan dan lobang yang ditaruh di depan rumah-rumah penduduk namun dengan isi beras sesuai ukuran potongan bambu tersebut. Untuk cara pengambilan persis yang sekarang dilakukan yakni diambil oleh panitia setiap sore hari, ya beras menjadi sarana penting saat itu yang menjadi makanan yang mempunyai nilai tinggi terlebih masa tanam warga desa hanya satu kali dalam setahun baru setelah ada bendung karet petani desa bisa tanam padi dua kali bahkan bisa tiga kali panen.

Sekian dulu tulisan isengku dan sillahkan komen di bawah..hehe...

Minggu, 14 Mei 2017

SERBA SERBI PILKADES 2016


SERBA SERBI PILKADES 2016

Kenalilah dirimu, maka lima puluh persen kemenanganmu, juga kenalilah musuhmu, maka kamu akan memenangkan seluruhnya” (Ahli Politik).
Desa merupakan bentuk pemerintahan kecil yang ada di kabupaten yang kepala pemerintahannya disebuat dengan kepala desa, kepala desa ini yang akan memimpin desanya selama enam tahun kedepan (UU DESA 2014), hal ini berlaku untuk Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak ini.
Pada 9 Oktober 2016 desa ini mengadakan pesta demokrasi yang diikuti oleh hampir seluruh pemilik hak suara yang dengan berbondong-bondong datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) masing-masing.
Pada periode ini PILKADES (Pemilihan Kepala Desa) Desa Poncoharjo diikuti oleh dua orang kandidat saja yaitu Muhammad Mufid Yusuf dengan nomor urut satu dan Muhammad Muslih dengan nomor urut dua. 



Baca juga 
  

 




Muhammad Mufid Yusuf terkenal dengan ustad karena mengajar di Madrasah di Desa Poncoharjo serta ikut dalam khutbah jum’at di masjid setempat, sedangkan Muhammad Muslih terkenal dengan pengusaha bulu ayam yang dianggap cukup sukses dengan lokasi pengeringan yang ada di Desa Poncoharjo tersebut.
PILKADES tahun ini mempunyai catatan tersendiri setidaknya oleh penulis sendiri yang penulis amati dari sekian tahapan mulai dari awal sampai akhir, pada catatan kali ini akan penulis paparkan beberapa catatan baik yang berupa fakta maupun kisah-kisah mistis sekitar pilkades, atau cerita-cerita dari warga yang  tentu kebenarannya masih dipertanyakan, haha... tak apalah aku catatkan disini sebagai bumbu-bumbu catatan PILKADES yang tentu lebih segar untuk dibaca oleh pembaca yang budiman, dalam catatanku pada PILKADES kali ini penulis berada langsung di lokasi dari sejak tahapan pengumuman sampai dengan pelantikan calon terpilih.
Sejak hampir tiga bulan sebelum hari H pencoblosan pihak panitia yaitu pada BPD (Badan Pemberdayaan Desa-Penulis) dan perangkat desa sudah membuat pengumuman pembukaan pendaftaran PILKADES, namun pada hari H cuma ada 2 kandidat saja siapa mereka, yakni dua orang yang sudah saya sebutkan di atas.
Pada hari hari sebelum kampanye tampak Desa Poncoharjo yang terdiri dari tiga dukuh yakni dukuh Krajan (pusat pemerintahan-penulis), Dukuh Poncol dan Dukuh Dopang, sudah tersebar baliho baliho kandidat yang cukup besar-besar bahkan tentunya para kandidiat sudah membentuk team sukses masing-masing yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan gapit itu, tentu ada catatan–catatan menarik dalam proses berlangsung para gapit ini, ya gapit menjadi ujung tombak dalam kesuksesan keterpilihan (elektabilitas) kandidat, tentu orang yang dianggap preman akan mengajukan diri menjadi gapit karenanya mereka akan mendapatkan dana segar tanpa harus ‘berkerigat’ dalam mendapatkan uang yang nilainya bisa mencapai jutaan rupiah itu. Sebagai contoh salah satu preman menuliskan beberapa catatan nama orang yang tentu namanya itu fiktif yang akan menjadi pendukung sang kandiddat, tentu ini akal-akalan sang preman untuk mendapatkan dana segar yang lumayan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Selain itu ada juga pemuda yang mengatasnamakan anak kampungnya mengajukan dana kepada masing-masing kandidat untuk mendapatkan dana guna pembangunan posko kampung tentu saja pengajuan ini akan diberikan oleh para kandidat untuk menjaga elektabilitas keterpilihannya di PILKADES kali ini yang nilai rupiahnya bisa mencapai jutaan rupiah juga.
Pada malam-malam setelah sang kandidat mendeklair dirinya untuk maju sebagai kandidat kepala desa maka sang kandidat akan terus mengeluarkan uang untuk masa jagong (kongkow), yang berlangsung hampir dua bulan ini, lalu berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh kandidiat pada masa-masa jagong itu, hemm...biar ana ngambil kalkulator dulu...Ha..lumayan jutaan rupiah.
Pada malam sebelum hari pencoblosan merupakan malam yang ditunggu masyarakat desa, betapa tidak pada malam ini masyarakat akan disuguhkan tontonan menarik sekaligus mendatangkan uang, ya masyarakat akan mendapat uang politik dari tim sukses, pemilik hak suara pada malam ini diberikan persuara Rp. 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah) jika dihitung, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan satu anak yang memiliki hak suara menjadi 450.000, ditambah uang yang sama dari kandidat yang lain Rp.450.000 menjadi Rp.900.000, memang masyarakat akan mendapatkan uang politik dari dua kandidat sekaligus, tidak hanya itu masyarakat pemilih akan mendapatkan tambahan uang sebesar Rp.50.000 saat keluar dari pintu lokasi pemilihan yang diberikan oleh perwakilan dari kedua kandidat, seperti yang penulis amati dari wakil kedua kandidat yang satu memberikan amplop dan yang lain menuliskan (tepatnya menstobilo) jumlah orang yang keluar pintu lokasi pencoblosan, jika ditambahkan dari dana diatas satu keluarga bisa mendapatkan Rp. 1.050.000. Jika dikalikan dengan seluruh pemilik suara yang berjumlah empat ribu lebih, maka bisa diprediksi berapa uang yang harus dikeluarkan oleh kandidat...? Coba pembaca hitung sendiri.

Namun berdasarkan apa yang penulis dengar dari gapit masing-masing, bahwa masing-masing kandidat mengeluarkan dana untuk menjadi kepala desa mencapai 1.700.000.000 ya, satu milyar tujuh ratus juta rupiah, wow jumlah yang fantastis untuk menjadi lurah atau kepala desa, yang hanya enam tahun itu.
Tapi meskipun dana yang harus dikeluarkan cukup besar namun ada harapan yang diperoleh oleh kandidat jika terpilih menjadi kepala desa ya, bengkok sawah yang mencapai 25 bau itu (sebelum ada revisi Pergub/UU/sejenisnya,yang menyatakan bahwa bengkok dicabut sebagi gaji lurah-penulis akan mengkaji kebenarannya) serta gaji berikut tunjangan-tunjangan dari pemerintah masih dirasa cukup untuk mengembalikan dana politik yang cukup besar itu.
Memang masyarakat Demak terlebih masyarakat Desa Poncoharjo adalah masyarakat yang non logis sehingga memandang pemilihan (Pemilihan apa saja dari kepala desa sampai kepala Negara) dari berapa banyak uang yang akan mereka dapat untuk bisa menyalurkan hak suaranya kepada kandidat, sehingga calon kepala desa hanya dinilai dari uangnya bukan karena kinerja dan visi-misinya ke depan, untuk itulah masyarakat jangan berharap banyak akan ada perubahan jika pemilihan desa masih mengandalkan uang dan uang saja.
Disamping pengeluaran yang sudah penulis tulis diatas ada pengeluaran-pengeluaran yang lain yang harus dikeluarkan oleh kandidat antara lain saat pengembalian formulir pendaftaran yang mencapai puluhan juta rupiah perkandidat untuk biaya PILKADES tersebut.
Pada hari pencoblosan semaraknya pemilihan desa begitu terasa ya, demokrasi uang akan selalu menarik peminat, begitu berduyun-duyun mereka ke TPS untuk mencoblos di masing-masing TPS. Memang pada kali ini bentuk TPS sedikit berubah dari bentuk TPS pada pencoblosan sebelumnya, TPS kali ini diatur sedemikian rupa yaitu TPS kali ini terdiri dari 9 TPS yang tersusun secara berurutan 1-9 yang akan diisi oleh kertas suara yang tercoblos dari RT-01/01 misalnya gang I yang merupakan RT01 RW01 akan menempatkan kertas coblosannya di TPS 01 begitu seterusnya, sehingga ketika pembacaan hasil suara akan terlihat jelas pada kotak TPS 01 pendukung kandidat siapa, kotak TPS 02 pendukung kandidat siapa dapat diketahui.
Pada pembacaan hasil suara kotak TPS 1-5 hasil suara sudah jauh perbedaannya yang pada awalnya dimenangkan oleh kandidat satu yaitu Muhammad Mufid Yusuf dengan selih suara empat ratusan suara lebih hal ini menjadkan gelisah kandidat dua sedangkan kandidat satu selalu tersenyum, padahal ini baru awal dari drama yang akan menguras emosi pada pembacaan hasil suara pada TPS selanjutnya.
Mulai pada TPS 06 yang merupakan TPS kampung Madrasah yang notabenenya adalah kampung kandidat nomor dua, suasana mulai tegang ya, suara banyak berpihak pada kandidat dua akhirnya secara telak kandidat dua menyusul tajam bahklan sampai TPS Poncol kandidat dua menang sehingga selisih semakin tipis, bahkan hanya tersisa selisih puluhan kecil saja, sampai TPS Dopang akhirnya kandidiat dua menjadi kampiun dengan selisih hanya sebelas suara saja miris..
Pada lanjutan tulisanku ini akan kami coba paparkan beberapa efek sosial dari PILKADES 2016 ini, apa itu ya.,..PILKADES membawa dampak yang cukup serius dalam kehidupan sosial masyarakat desa yakni tentang kehidupan bertetangga, antara lain yaitu:
·         Ada salah satu kisah, dalam sebuah kampung seorang yang mempunyai kambing piaraan yang mempunyai kandang yang ditempatkan disamping pendukung lawannya, yang ketika lewat untuk mengkandangkan hewan piaraannya harus melewati samping (torong) pihak yang berlawanan, kemudian harus dilarang untuk melewatinya, sehingga pihak yang mempunyai hewan piaraan harus rela membuat kandang di luar kampung yang cukup jauh dari kampungnya karena memang tidak mempunyai lahan lagi untuk membuat kandang di lahannya.
·         Cerita yang lain adalah ada dua keluarga yang berbesanan dengan dukungan yang berbeda antara keluarga besan satu dengan keluarga besan yang lain, setelah hasil pemilihan diumumkan yang hanya berbeda sebelas suara saja, kemudian berdampak pada keluarga ini yakni akan terjadi konflik dengan dua besan tadi, yang awalnya baik-baik saja kemudian terjadi konflik yang berkepanjangan, ya...adalah anak dari besan tadi yang masih hidup serumah dengan mertuanya namun mendukung kandidat yuang berlawanan dengan mertuanya karena ngeboti dengan orang tuanya sendiri yang mendukung pihak yang berlawanan dengan mertuanya sendiri padahal ia sendiri hidup dalam keluarga mertuanya, maka ketika pihak lawan dari mertuanya yang menang maka mertuanya itu tidak lagi mempedulikan menantunya itu.
·         Diantara kisah unik yang lain adalah bahwa salah satu kandidat menjanjkan konser dangdut mewah jika mau memilih dirinya, sehingga para pemuda yang notabenenya suka denga dangdutan akan memilih dirinya, benar saja cara ini menjadi cara yang jitu untuk menarik para voter (pemilih) pemuda untuk memilih dirinya, dan ini terbukti, lain lagi bagi para kiai yang mendukung pihak yang menjanjikan dangdutan dan menang maka, para kiai itu disebut kiai dangdutan sindir para pemilih yang penduing pihak berlawanan.
·         Kisah yang lain adalah anak dari pihak yang pada pemilihan sebelumnya kalah dalam perebutan kursi kepala desa menyebarkan uang untuk kemengan pihak yang lain yang pada pemilihan orang tuanya tidak memilih orang tuanya, meski mereka adalah masih ada ikatan saudara, dan memang untuk itulah dia menyebarkan uang agar saudara sendiri tidak menang demi membalas ‘sakit hati’ pada pemilihan sebelumnya.
·         Seperti yang saya sebut diatas bahwa masing-masing kandidat menawarkan konser, kandidat satu menawarkan konser sholawat Habib Syeh yang lainnya menawarkan Konser Dangdhut New Pallapa yang merupkan kesenangan anak muda warga Desa Poncoharjo, selain itu salah satu kandidat menawarkan kupon hadiah berupa Motor, Kulkas, dan barang-barang lainnya yang akan dibagikan pada saat pemilihan selesai dan dimenangkan olehnya hal ini tentu upaya untuk menarik pemilih kedalam lingkarannya yang dibagikan saat pembagian uang politik pada malam harinya.
·         Kisah lain, salah satu kandidat (coba tebak siapa,malah main tebak-tebakan) membuat acara yang menurut mereka disebut Istighasah (memohon pertolongan-penulis) yang berisi bacaan bacaan dalam ayat Al Qur’an yang agung dan ditambahkan bacaan-bacaan yang secara bahasa adalah bahasa jawa.
·         Tidak sekedar itu, tentu dari pihak pihak yang mencalonkan diri sudah mencari orang-orang pintar untuk ‘minta restu’ agar dirinya lulus dan lolos menjadi kampiun di pesta demokrasi ala wong deso ini alias mejadi kepala desa.
·         Salah satu kandidat mengandalkan support atau dukungan dari banyak pihak tidak sekedar dukungan pemilihan (ini seperti yang penulis dengar, kepastiannya tolong tanyakan sendiri-kalau berani hehe....) bahwa support dana berasal dari beberapa pihak yang mendukung dirinya untuk maju yang berasal dari para donatur yang dibilang orang orang kaya di desa tersebut sehingga praktis dana kampanyenya dari sumbangan donatur yang cukup besar, disamping dari kantong pribadi yang tidak bisa dibilang sedikit.
·         Kisah mistis lain adalah kisah Wahyu Keprabon, alkisah sebelum arak-arakan salah satu kandidat yang melewati kandidat yang lain, kandidat tersebut seperti susah melangkahkan kakinya, baru saat kandidat yang lain melewati dirinya dan seberkas cahanya masuk kedalam dirinya maka kandidat ini mampu melangkahkan kakinya menuju lokasi pemilihan, lain lagi bagi beberapa orang yang melihat ketika waktu subuh baru saja berlalu dari atas terlihat seperti lintang ngaleh (bintang jatuh) jatuh kerumah kandidat yang menang hal itu merka saksikan ketika mereka ingin buang hajat pada pagi hari, ini yang penulis dengar ketika dia ngobrol dengan penulis.
Demikian sedikit catatanku tentang serba-serbi PILKADES 2016 yang sedikit ini mungkin dilain kesempatan akan kami catatkan kembali disini, mohon maaf untuk pihak-pihak yang terkait dalam tulisan ini, bukan untuk membuka luka lama atau yang lain, ini hanya sekedar catatan yang menjadi tanggungan moral seorang penulis untuk mendokumentasikannya agar bermanfaat dimasa yang akan datang, trims.











Senin, 12 September 2016

Akhir sang preman kampung

Skenario Membunuh Warsito
(cerpen)
Sinar matahari menampakkan keangkuhannnya menyinari dunia penuh keceriahan, suara monoton terdengar terus menerus bersamaan cangkul menyentuh tanah gembur, Surawan pria paruh baya ini dengan tekun bergelut dengan sawah garapan hasil pembelian dari saudagar kaya pemenang tender lelang sawah BKM istilah untuk sawah milik masjid kabupaten itu. Ketekunannnya dalam belajar mencari karunia sudah kawentar di kalangan masyarakat Desa Pancajaya itu.
Setiap pagi buta Surawan pergi kesawah dengan tekunnya mulai dari tanam bahkan sampai pemanenan dijalani Surawan dengan penuh semangat agar kehidupan ekonominya berjalan dengan baik dan bertambah kemapanan ekonominya.
Seperti biasa pagi itu ia pergi kesawah namun kali ini dengan perasaaan yang penuh gembira karena melihat sawahnya yang sudah menguning dengan baik itu pertanda masa panen akan segera tiba dan bisa dijual
Untuk keperluan membangun rumahnya yang sudah mulai reot dimakan usia, terlebih rumah kayu ini sudah tidak layak huni, besar hatinya agar panen nanti melimpah dengan harga tinggiagar hasil panennya bisa digunakan untuk bangun rumahnya.
Alangkah bahagia hatinya melihat sawahnya yang terlihat bagus, lama ia memperhatikan sawah yang siap penen itu, tiba- tiba seorang yang memakai topi koboi itu menyapanya, "Sur"...sapaan akrap mampir di telinganya suara yang sudah ia kenal, ya Warsito si tengkulak gabah itu memanggilnya, begitu kenalnya ia karena sering bertemu di sawah yang memang mempunyai sawah yang bersebelahan dengannya,"Ya..."Sahutnya dengan masih menatap sawahnya tanpa menoleh panggilan temennya itu.
“Dijual berapa...?” tanya Warsito sambil duduk disebelah Surawan..."Uuw Ahhh..."asap tebal keluar dari mulut Warsito dengan sigaretnya yang tampak basah karena hisapan mulutnya...”Berani berapa...?” Surawan menjawab tawaran Warsito..”Lima belas juta ya?” “Tambah lima ratus” balas Surawan minta tambahan harga “OK Deal limabelas Juta lima ratus, ini DP nya satu juta dulu ya...” ,”OK” balas Surawan yang kini sudah benar benar bicara serius dengan berhadap hadapan dengan Warsito itu,
Transaksi sederhana yang oleh masyarakat sekitar di sebut 'Nebas Pari' ini berjalan meski tanpa saksi serta surat bukti transaksi, transaksi jual beli utang piutang ini berjalan dan sudah biasa dilakukan di Desa Pancajaya itu. “Kapan Dipanennya?” tanya Surawan dengan maksud jika sudah dipotong(dipanen) berarti kekurangan dari jual sawah akan segera dibayarkan oleh warsito, "Ya paling seminggu lagi nanti kalau udah terjual kekurangnnya akan aku kasihkan aku antar ke rumah kamu, kamu jangan kuatir” pinta Warsito meyakinkan, “Baik, bener ya jangan lama-lama motongnya awas musim hujan nanti ambruk saya yang rugi” balas Surawan mengharap warsito segera memanen sawahnya agar secepatnya dapat kekurangan uangnya yang dari warsito itu.
***
Sore itu menjelang magrib tiba,tampak langit mulai gelap gulita karena mendung awan pekat kumulus menutup langit Desa Pancajaya itu, suara angin terdengar huss... menerpa pepohonan semakin lama semakin kencang pertanda akan segera hujan, gerimis mulai datang membasahi seluruh desa yang diikuti suara petir bersahutan dan hujan deraspun mulai membasahi desa, suara speker adzan magribpun tidak mampu mengalahkan suara hujan yang teramat deras itu, pohon-pohon seperti hampir ambruk terkena angin disertai hujan lebat, penduduk desa seperti ogah keluar rumah,sebentar kemudian lampu PLN-pun ikut padam praktis suara hujan dan petir memenuhi ruang dan waktu di desa PancaJaya itu. Dan sebentar kemudian genangan air memenuhi halamansetiap rumah dan jalan jalan desa bahkan sawah sawah.
***
Kegelisahan mulai muncul di benak surawan memikirkan panen sawah yang sudah dijualnya kepada Warsito tadi, “Bagaimana keadaan sawahku jika hujan seperti ini” pikirnya ketika lamunanya semakin mendalam tiba-tiba gelegaar...suara gemuruh itu seperti memecahkan genderang telinganya...sekaligus menyadarkan ia bhwa waktu sholat telah tiba. Menjelang malam kantuk belum bisa menguasainya lantaran masih memikirkan sawahnya yang terkena hujan lebat itu. Namun kemudian matanya sudah mulai gelap setelah kantuk benar-benar menguasai dirinya.
***
Pagi masih tampak samar –samar mataharipun masih enggan menampakkna wajahnya, namun masyarakat desa sudah begitu ramai, ya tentu mereka masing-masing khawatir dengan padi mereka yang masih disawah itu, pagi buta itu mereka penduduk desa tidak ketinggalan Surawan juga pergi kesawah masing-masing untuk melihat hasil panenya yang terkena hujan lebat semalam.

Perjalanan tergesa-gesa ia lalui melewati pematang sawah sambil memperhatikan kiri kanan tarikan nafas panjang menyertai perjalanannya, ya,sepanjang jalan pematang sawah yang ia lalui,tampak batang-batang padi sudah tidak berdiri lagi, banyak diantara padi-padi itu tidak beraturan ada yang ambruk kira kanan bahkan ambruk semua, semakin gelisah ia semakin khawatir muncul dalam dirinya, “Bagaimana nasib sawahku” pikirnya.
Dari kejauhan tampak dia memperhatikan sawahnya badannya gemetaran melihat dari kejauhan hasil sawahnya,, air tampak memenuhi petak sawah miliknya, "Aduh"...keluhnya...ya..sawahnya ambruk semua tidak beraturan, hatinya menjadi kecut.dengan hati yang berat ia kembali pulang kerumahnya.
***
Hari berganti hari Surawan semakin gelisah karena padinya belum dipanen oleh Warsito, “Bagaimana nanti jika digagalkan transaksinya secara sepihak oleh warsito?” pikirnya.
Hari berganti hari, kegelisahan surawan semakin menjadi tatkala hari pemotongan padi lewat begitu saji namun padi surawan masih belum di panen sedang keadaan padi semakin rusak karena ambruk serta hujan sehingga pohon padinya rusak membusuk bahkan sampai tumbuh benih hal yang sangat memilukan
Hari itu bagai petir menyambar,Warsito secara sepihak membatalkan transaksi nebas sawah yang sudah mereka sepakati, Hancur luluh hati surawan angan angannya untuk bisa mempergunakan hasil panennya untuk membangaun rumah sirna sudah, “Ini gara-gara Warsito, Kurang ajar dia” Pikirnya.
Kebencian Surawan semakin mendalam tatkala Kamuri preman kampung tangan kanan Warsito meminta uang DP transaksi awal nebas sawah yang sudah dibayarkan warsito, dengan berat hati Surawan memberikan uang Dp satu juta sebelumnya, meski dengan semakin bertambah kebencian pada Warsito.
Hari-hari kiniSurawan tidak bisa tidur pikirannya melayang menandakan kebencian pada Warsito, sesaat kemudian Hp jadulnya berdering..”Kring..”“Ah Si Asep” Nampak nama Asep timbul di HP-nya tanda memanggil..”Ada apa tiba-tiba temen lama waktu di bandung menelpon” pikirnya..”Perbincangan panjang lebar terjadi setelah menyapa dan saling menanya kabar masing-masing, akhirnya Surawan curhat atas apa yang sedang menimpanya, dengan tanggap asep yang asli Cipading dengan tanggap siap membantu, ya bukan main-main bantuannya, dia siap menyiapkan preman serta senjata api rakitannya untuk menghabisi Warsito, Surawan yang memendam kebencian pada Warsito awalnya menolak namun ketika Asep mencoba meyakinkannya dengan sekenario yang rapi pembunuhan terhadap Warsito akan berjalan lancar.
Benar saja, kesepakatan terjadi Asep siap membantu Surawan menghabisi Warsito dengan skenario yang rapi.
Sore itu menjadi waktu naas bagi preman kampung Warsito, pria bertopi koboi itu sedang melihat peternakan burung di luar kampung, tiba tiba “Dor.. suara letusan senjata api dan sesaat kemudian pipi kanan warsito penuh dengan darah, ya tepat di kepala kanan warsito, seketika itu pula preman kampung yang sok jagoan itupun tumbang oleh preman sewaan Asep dengan senjata api rakitannya. Suasana yang sepi kala itu menjadi semakin mudah bagi si Gemblung preman kelas kakap yang menghabisi Warsito dengan mudah menyeret jasad tak bernyawa itu untuk dibuang ke Kalijajar sekitar kejadian, dan dengan memberikan bandul batu besar jasad naas itu akhirnya tenggelam di dasar sungai, bahkan jasadnya sampai tidak ditemukan barangkali sudah habis dimakan hewan sungai itu.
***
Sementara itu sejak kematian orang tuanya keluarga Warsito menjadi hancur lebur diberitakan anak laki-lakinya Buwas menjadi pengemis di pasar dan terminal, serta ibunya menjadi gembong germo di kota samara.
selesai
***





Minggu, 23 Agustus 2015

Demokrasi Ala Wong Ndeso 2


DEMOKRASI ALA WONG DESO II
(Oleh:Zaini Addimawy)

Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak kini sudah PlT. (Pelaksana Tugas) dalam pemerintahannya yang sebelumnya dipimpin oleh kepala desa yang lama yaitu Haji Sutrisno. Hal ini tentu menjadikan warga mulai menerka-nerka siapa kelak yang maju sebagai kepala desa.



Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak memang unik, unik karena beberapa hal terutama demokrasi dalam pemilihan kepala desa, seperti diketahui penulis, seorang calon kandidat kepala desa harus mengganti namanya secara mistis, dengan maksud supaya terhindar dari serangan yang bersifat mistis, misalnya santet atau teluh.

Selain merubah nama seorang calon kepala desa yang bertarung dalam pemilihan kepala desa harus menyiapkan cost demokrasi untuk money politik mencapai  1 (satu) milyar rupiah, sungguh harga yang fantastis yang harus dikorbankan untuk menjadi kepala desa. Ini yang penulis amati pada PILKADES 2008 silam.
baca juga  Demokrasi Ala Wong Ndeso

Pada PILKADES Desa Poncoharjo yang akan datang sepertinya akan berubah dan memang seharusnya sudah berubah, berubah cara pandang dalam pemilihan. Ketika pemilihan sebelumnya hanya yang berduit saja yang bisa calon kepala desa meningngat ongkos money politiknya yang sangat tinggi seperti yang penulis sebutkan diatas dengan harapan kalau jadi atau terpilih menjadi kepala desa mendapat gaji 25 bau (1 Bau lebih kurang 0,75 Ha) sawah selam 6 (enam) tahun, yang jika dikalkkulasikan mampu mengganti ongkos politik yang dikeluarkan.

Namun sebaliknya bagi pihak yang kalah dalam pertarungan PILKADES ini dapat diyakini akan mengalami kerugian besar bahkan bisa sampai kedalam kebangkrutan.

Namun sekarang setelah disyahkannya UU No. 6 Tahun 2014, Permen No. 113 Tahun 2014 maka Permen Dalam Negeri No. 37 Tahun 2007 dicabut, dan dinyatakan tidak berlaku, maka ekstalasi politik mulai berubah, betapa tidak, sistem gaji kepala desa berubah dari bengkok sawah yang besar diganti dengan gaji bulanan yng nilai kursnya jauh lebih rendah dari sistem bayaran bengkok, jika dihitung dengan ongkos politik yang mencapai satu milyar, maka amat sulit untuk bisa mengembalikan modal politik tersebut, hal inilah yang dipikirkan oleh orang yang akan maju menjadi bakal calon (Balon) kepala desa pasalnya mereka para calon tahu betul, mereka akan rugi besar  meski nanti akan ada Dana Desa, yang nilainya mencapai 1 Milyar Rupiah pertahun perdesa, namun dari pihak pemerintah akan ada pendamping desa yang akan membimbing dalam penyususnan RAPBDesa (Rencana Anggaran pendapatan dan Belanja Desa).

Namun demikian pada dasarnya jika kepala Desa ingin melakukan pemalsuan anggaran bisa saja terjadi namun KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) siap menciduknya dan ‘Hotel Prodeo’ (Baca: Penjara) siap menjadi tempat tinggalnya, Dan penulis meyakini akan banyak para kepala desa yang akan masuk kedalamnya karena  terjerat kasus korupsi.

Sisi baiknya ditetapkannya UU no.6 Tahun 2014 itu menjadi angain segar jiwa-jiwa muda yang ingin memajukan desanya untuk maju menjadi kepala desa, karena tidak lagi tidak lagi membutuhkan dana besar untuk menjadi kepala desa.

Jika demikian maka bisa disimpulkan Demokrasi Ala Wong Deso akan mengalami kemajuan yang signifikan, indikatornya adalah, minimnya politik uang, jiwa muda yang berpendidikan tinggi mau maju sebagai kandidat, dan kurangnya cara mistis dalam demokarasi pemilihan desa. Dan akhirnya desa semakin maju dan berdikari insyaallah.


Rabu, 19 Agustus 2015

Kisah Semarangan: Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru

Kisah Semarangan: Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru: "Rasa Jamu Jun itu kompilasi antara segar, manis, legit, hangat dan pedas. Enak dikonsumsi ketika musim hujan. Apalagi ketika tubuh k...